Membangun Sensitivitas akan Minoritas melalui Cultural Studies dan Etnografi

Kira-kira apa yang pertama kali terpikir saat kita melihat sekumpulan orang yang memakai baju adat berwarna hitam atau putih lengkap dengan ikat kepala, berjalan beriringan tanpa alas kaki di perkotaan, dengan memikul barang di pundaknya? Barangkali apa yang kita pertama kali pikirkan : mereka adalah orang terbelakang. Setidaknya, mereka bukanlah orang yang berpendidikan, karena orang yang berpendidikan itu selalu memakai alas kaki –misalnya. Namun, seberapa validkah penilaian kita tersebut?

Adalah mereka, saudara kita dari Suku Baduy Dalam, sebuah kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Secara formal, Suku Baduy Dalam memang tidak mengenyam pendidikan sekolah layaknya kita. Pengetahuan akan adat-istiadat dan kepercayaan yang diajarkan pada mereka semua berupa tuturan lisan karena mayoritas dari mereka tidak bisa membaca ataupun menulis. Hal tersebut sudah menjadi salah satu aturan dari adat-istiadat yang mereka anut, sehingga sekuat apapun pemerintah ingin membangun sekolah dalam wilayah tersebut, selalu ditolak oleh masyarakat Suku Baduy Dalam.

Dengan demikian, lantas bukannya terbukti bahwa mereka adalah orang terbelakang? Mungkin iya, jika tolak ukurnya adalah pendidikan formal yang oleh masyarakat mayoritas dinilai sebagai indikator kemajuan kognisi seseorang atau sekelompok masyarakat. Namun, bila indikatornya adalah ramah terhadap lingkungan, bisa jadi mereka semua lebih beradab dibandingkan dengan orang yang mengenyam pendidikan formal tertinggi sekalipun. Masyarakat Baduy Dalam dikenal dengan sikapnya yang menjaga dan melestarikan alam sebagai bentuk tanggung jawab mereka dalam menjaga keseimbangan alam semesta. Maka tidak ada penebangan liar di sana, tidak juga sampah-sampah yang ikut mengalir di sunga-sungainya. Sehingga salah besar justru jika melabeli mereka dengan istilah terbelakang, karena dalam beberapa hal, bisa jadi mereka jauh lebih beradab dari kita kelompok mayoritas.

Belum lagi jika kita melihat bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain. Ketiadaan teknologi, juga ketiadaan listrik membuat hari-hari mereka dipenuhi dengan hubungan yang erat antara sesamanya. Kearifan local seperti kerja sama dan gotong royong pun sangat mereka pegah teguh. Hal yang barangkali menjadi sesuatu yang mahal dalam masyarakat modern dewasa ini, dimana individualism sudah dirasakan menjadi hal yang sangat mengganggu tatanan masyarakat ketimuran. Sepertinya terlihat terbelakang, tapi di sisi lain agaknya justru kita yang sedang berjalan ke belakang, terlihat seperti bergerak, padahal tengah bergerak mundur. Siapa yang kira? Sama hal nya jika kita melihat dari sisi kebebasan. Masyarakat modern, dengan berbagai teknologi yang memudahkannya, seringkali terjebak dalam budaya konsumerisme. Pada beberapa orang bahkan hingga batas yang tak wajar. Tak bahagia jika belum belanja. Resah jika melihat ada model terbaru yang belum dipunya. Lain halnya dengan masyarakat Baduy Dalam, di mana pakaian yang mereka kenakan haruslah buatan mereka, dengan model yang sederhana apa adanya. Meski tampaknya mengekang, atau bahkan menyedihkan, namun di sisi lain kita bisa melihat mereka sebagai orang yang merdeka dari penjajahan bernama konsumerisme, bukan?

Temuan demikian tentu tidak akan kita dapatkan dengan hanya melihat mereka sepintas lalu, apalagi dengan mengambil jarak dari mereka. Temuan demikian baru bisa kita maknai betul saat kita meneliti dan memberi ruang kritis yang memungkinkan kita untuk melihat sisi lain kehidupan mereka dengan lebih dekat, seraya memeriksa kembali bahasa yang kita gunakan agar sesuai dengan pandangan mereka. Bukan lagi bahasa dan pandangan kita sebagai seseorang yang merasa datang dari golongan mayoritas. Ada dua pendekatan penelitian yang bisa digunakan dalam konteks ini, yakni pendekatan cultural studies, dan pendekan etnografi. Pendekatan cultural studies relevan karena ia memberikan ruang dialog bagi bagi kaum intelektual, pemikir kritis, dan kelompok lain yang  tidak bisa diakomodir dengan pendekatan yang lain. Adapun etnografi merupakan fenomena interdisipliner yang muncul sebaai cara untuk melihat, berbicara, dan mempelajari beragam budaya dan masyarakat dengan cara yang tidak mengabadikan eksploitasi dan dominasi.

Dengan dua pendekatan tersebut, saat melihat Suku Baduy Dalam misalnya, peneliti akan lebih berhati-hati dalam merepresentasikan mereka. Tidak lagi melihat mereka sebagai ‘the other’, tetapi justru merangkul, dan menjadikan perbedaan yang ada sebagai keragaman kolektivitas yang berwarna. Tidak lagi mengambil ‘keuntungan’ atas diri mereka melalui tulisan-tulisan yang eksploitatif, tetapi justru selalu mengkritisi diri kita untuk senantiasa menginterogasi motif kita, arahan pekerjaan kita, agar tak terjebak dalam bentuk imperialisme yang baru. Pun sama halnya saat kita sebagai peneliti melihat orang-orang yang terpinggirkan. Hal yang harus dipegang teguh adalah bagaimana lewat tulisan tersebut, banyak orang tergerak untuk berpikir kritis tentang keberadaan orang-orang yang dianggap marjinal dalam sebuah lingkungan masyarakat, sehingga mampu meminimalisasikan tingkat diskriminasi atau stigma negatif yang beredar tentang mereka.

Referensi :

Hooks, Bell. 2015 Culture to Culture: Ethnography and Cultural Studies. Dalam Yearning: Race, Gender, and Cultural Politics.New York and London: Routledge

Advertisements

Women Read The Romance : Between The Despair and Hope?

Tersebutlah Ia Dorothy Evans, seorang perempuan pekerja di sebuah toko buku yang rekomendasinya mengenai buku romance mana yang baik untuk dibaca ataupun mana yang harus dihindari, amat didengar oleh para pelanggannya. Janice Radway, dalam artikelnya yang berjudul : “Women Read The Romance : The Interaction of Text and Context[1] mengatakan bahwa penelitiannya terhadap Dot Evans serta para pembacanya sudah berlangsung selama kurang lebih 60 jam wawancara sejak Juni 1980 hingga Februari 1981. Dalam kurun waktu tersebut, Janice banyak menggali dari Dot mengenai romance, ikut membaca dan memperhatikan aktivitas Dot dalam merekomendasikan buku, serta memperhatikan interaksi Dot dengan pelanggannya langsung di toko buku.

Dot Evans tinggal dan bekerja dalam sebuah komunitas di kota Smithton, sama halnya seperti kebanyakan dari pelanggannya. Saat penelitian berlangsung usianya 48 tahun,  Ia seorang istri dari seorang tukang pipa, dan seorang ibu dari tiga anaknya yang telah dewasa. Ia, dalam deskripsi Janice, digambarkan sebagai seorang perempuan yang cerdas, berwawasan luas serta fasih. Meski tidak menyebutkan dirinya sebagai feminis, Ia berpegang pada beberapa nilai yang mengarah ke sana. Dot juga merupakan orang yang secara implisit mempercayai nilai dari true romance dan sepenuhnya menikmati untuk mencari lagi dan lagi bahwa perempuaan dapat menemukan laki-laki yang akan mencintai mereka seperti mereka berharap akan dicintai. Adapun pelanggan Dot kebanyakan lebih konservatif dibandingkan dengan Dot. Mereka sangat memperhatikan bahwa laki-laki kerap berpikir bahwa dirinya superior dari perempuan dan seringkali salah dalam memperlakukan mereka sebagai hasilnya. Namun, mereka tidak melakukan langkah advokasi politik untuk memperbaiki keluhan-keluhan mereka itu.

Membaca Romance : Deklarasi Kebebasan Sementara

Ketika ditanya mengapa mereka membaca buku romance, mereka menyebut pelarian atau relaksasi sebagai tujuannya. Penyebutan kata pelarian ini sendiri mengacu ke dalam pengertian baik secara harfiah maupun kiasan. Di satu sisi, mereka membaca romance karena saat membaca mereka  meninggalkan sejenak dunia nyata, untuk dapat memahami ceritanya dengan memberikan perhatian secara khusus pada kata-kata dalam halaman buku tersebut. Pelarian ini bagi mereka lebih elegan dibandingkan pelarian melalui menonton televise, karena bagi mereka, membaca secara alamiah adalah tindakan yang terpelajar. Mereka juga memastikan bahwa mereka membaca untuk belajar. Di sisi lain, pembaca Smithton sangat mengakui bahwa romance yang sangat menyita pikiran mereka itu lebih dari sebuah fantasi atau cerita dongeng yang selalu berakhir bahagia. Mereka menyadari bahwa dalam faktanya, karakter dan kejadian yang mereka temukan di dalam halaman-halaman buku tersebut tidaklah menyerupai orang-orang yang harus mereka hadapi sehari-hari. Ketika ditanya hal apa yang dimiliki oleh romance yang tidak dimiliki oleh novel lain, mereka menjawab bahwa justru karena ia tidak nyata, bentuk fantastic dari ceritanya membuat pelarian itu menjadi lebih komplit dan memuaskan.

Beberapa dari komentar para pembaca tersebut juga menyiratkan kesedihan bahwa hidup tidak menjanjikan hal yang sama. Sebuah rasa yang mendalam akan pengkhianatan juga tampak dalam ekspresi sederhana mereka dalam kebutuhan untuk mempercayai sebuah dongeng yang menipu. Namun, meskipun mereka merasa kecewa (dengan kehidupan nyata), mereka merasakan penyegaran dan penguatan dengan kehadiran mereka dalam hubungan fantasi dimana tokoh perempuan diperlakukan sebagaimana mereka ingin diperlakukan saat dicintai. Secara tidak malu, mereka juga mengakui bahwa mereka suka untuk memuaskan diri dalam pelarian sementara karena mereka menghindari tekanan dan tegangan yang mereka alami sebagai seorang istri dan ibu, karena tugas dan pekerjaan mereka sebagai seorang istri dan ibu sangatlah menguras dan kerap tidak dihargai.

Membaca romance dalam hal ini merupakan sebuah deklarasi kebebasan sementara dari peran sosial mereka sebagai seorang istri dan ibu. Dengan mencipatkan jarak antara buku dan keluarga, para perempuan tersebut menyiapkan sebuah ruang yang istimewa untuk mereka sendiri. Sebagai konsekuensinya, mereka sesaat mengizinkan diri mereka untuk mengabaikan sikap pengorbanan diri yang utuh dalam kepentingan keluarga yang mereka telah patuhi sebagai sikap yang tepat bagi seorang istri dan ibu yang baik. Membaca romance pun merupakan sebuah pernyataan yang tegas akan kebutuhan psikologis yang mendalam dan sebuah sarana untuk memuaskan hal tersebut. Sederhanya, kebutuhan tersebut timbul karena tidak ada orang lain dalam keluarga tersebut, pada kondisi saat ini dalam masyarakat yang patriarki, yang bisa memenuhi pemulihan afektif dan emosional sang istri ataupun ibu. Ketika dia menghabiskan waktu untuk melindungi yang lain, bagaimanapun juga dia mengharapkan untuk memulihkan serta mempertahankan dirinya dengan baik.

Membaca Romance dan Implikasinya

Membaca kisah romance juga membuat para perempuan pembaca di Smithton memahami perilaku pasangan mereka. Mereka mulai menginterpretasi ulang hal-hal yang tidak menyenangkan dari suaminya dan mengganggap hal tersebut bukanlah bentuk bahwa dia tidak dicintai. Kebiasaan membaca membuat mereka terbiasa untuk melupakan dan memaklumi ketidakhangatan suami mereka, dan hal tersebut dapat terrbawa ke dalam level bawah sadar yang dimaknai sebagai tanda kecenderungan, kesetiaan, dan cinta. Namun, mereka sendiri berpendapat bahwa beberapa jenis dari perilaku laki-laki yang diasosiasikan dalam stereotype machismonya, tidak bisa dimaafkan atau dibaca ulang sebagai bentuk cintanya.

Di akhir tulisannya, Janice menyebutkan bahwa jika kita serius tentang politik feminis, dan berkomitmen untuk memformulasikan ulang-tidak hanya kehidupan kita- tapi juga mereka di luar sana, maka sudah sepatutnya kita tidak merendahkan pembaca romance sebagai tradisionalis tak berpengharapan yang keras kepala dengan penolakan mereka untuk mengakui korban emosional dari patriarki. Kita harus mulai menyadari bahwa pembaca romance bermula dari rasa ketidakpuasan dan ketidaksenangan, bukan pada kepuasan yang sempurna atas nasib sebagai perempuan. Lebih jauh, kita juga harus memahami bahwa mereka ditandai dengan rasa kerinduan yang disebabkan kegagalan pernikahan patriarki dalam membahasakan kebutuhan mereka.

By helping romance readers to see why they long for relationality and tenderness and are unlikely to get either in the form they desire if current gender arrangement are continued, we may help to convert their amorphous longing into focused desire for specific changes..”-Janice

Kritik terhadap Janice

Jennie Cruise,seorang penulis buku romance, dalam artikelnya yang berjudul “Romancing Reality: The Power of Romance Fiction to Reinforce and Re-Vision the Real[2], menunjukkan ketidaksetujuannya dengan pendapat berbagai kalangan bahwa romance adalah sebuah fantasi belaka. Bagi dia,dunia yang ada dalam romance justru lebih nyata daripada berbagai literasi yang pernah ditemuinya. Banyak dari bacaan akademisnya yang menyatakan bahwa fiksi didalamnya merefleksikan dunia laki-laki yang dituliskan dengan otoritas laki-laki. Namun Jenny menyangkal itu dan mengatakan bahwa novel romance justru memperlihatkan kemampuan dan kekuatan perempuan dengan memperlihatkan keaktifan dari tokoh perempuan, dan kontrol yang cerdas atas kehidupan mereka.

Kutipan Jenny atas Janice yang pertama yakni terkait pembaca romance yang seringkali disebut sebagai orang yang terlalu bodoh untuk bisa melihat bahwa dalam realitasnya, mereka sudah terkooptasi oleh patriarki ketika mereka membaca romance. Dalam argumennya, Janice menyatakan hal tersebut disebabkan karena pembaca romance hanya membaca untuk mendapatkan ceritanya saja, tidak untuk memperhatikan bahasa di dalamnya. Hal ini dikritik oleh Jennie,karena fakta akademisnya, kebanyakan dari semua orang membaca untuk mendapatkan cerita. Sehingga argument Janice dalam hal ini dipandang tak beralasan. Jenny juga mengkritik pemosisian pembaca romance sebagai orang yang tidak mendapatkan hal yang diinginkan dalam kehidupan nyata, hingga lari ke dalam cerita romance sebagai kompensasi terhadap minimnya perhatian terhadap mereka. Jennie berargumen bahwa dari sudut pandang statistic, pembaca romance rata-rata merupakan orang yang lebih bahagia dan bercinta lebih dari mereka yang tidak membaca romance.

Kutipan kedua dimana Jennie mengkritik Janice yakni terkait pernyataan Janice yang mengrkitik kegemaran novel romance pada detail pakaian. Menurut Janice, tokoh perempuan secara alamiah digambarkan menyukai fashion. Hal tersebut, baginya, merupakan bentuk ketidaksadaran atas konvensi budaya dan stereotype dari penulisnya yang menetapkan bahwa perempuan selalu bisa dikarakteristikkan dengan kegemarannya yang universal atas pakaian. Namun, berbanding terbalik dengan Janice, Jennie berpendapat bahwa penggambaran tersebut justru menginformasikan tentang realitas kehidupan dari seorang perempuan.Perempuan gemar dengan detail seperti pakaian dan lingkungan karena kebanyakan dari kita merupakan nyonya dari komunikasi yang tak terucapkan (mistresses of unspoken communication). Perempuan justru bisa bercerita banyak tentang seseorang dengan hanya melihatnya, dibandingkan dengan mendengarkan suaranya. Oleh karena itu, Jennie bersikeras bahwa fiksi romance menguatkan validitas akan kegemaran dari perempuan itu sendiri.

By the end of the month, I’d skimmed or read almost a hundred romance novels and two life-changing things happened to me: I felt more powerful, more optimistic, and more in control of my life than ever before, and I decided I wanted to write romance fiction. Anything that did that much good for me, was something that I, as a feminist, wanted to do for other women.”-Jennie

Sebuah Pandangan Pribadi

Membaca perbedaan sudut pandang antara Jennie dan Janice membawa saya menyelami sebuah telaahan mengenai sosiologi sastra dengan dua pertanyaan besarnya, yakni apakah karya sastra itu merupakan refleksi dari kondisi sosial, ataukah justru membiaskan kondisi sosial yang ada. Dalam hal ini, apakah buku romance itu merefleksikan perempuan itu sendiri, ataukah justru membiaskannya. Namun lepas dari kajian yang lebih mendalam tentang hal tersebut, ada dua hal yang setidaknya menjadi perhatian saya setelah membaca artikel Janice, pertama yakni terkait stereotype mengenai perempuan yang terdapat dalam buku romance, dan yang kedua adalah stereotype terhadap perempuan di luar buku tersebut atau di alam nyata .

Streotype dalam artikel Janice misalnya terkait perempuan dan pakaian yang sebelumnya disebutkan di atas, kemudian juga penggambaran suatu kejadian dalam romance yang seringkali lebih memperlihatkan motif dari tokoh lelakinya dibandingkan dengan tokoh perempuannya itu sendiri. Janice mencontohkan dalam buku The Black Lyon saat Ranulf melecehkan pengantin mudanya, yang pembaca dapat mengerti adalah bahwa apa yang dilakukannya terhadap Lyonene adalah hasrat irasional untuk melukai, yang timbul akibat perbuatan yang pernah dilakukan oleh istrinya dahulu terhadapnya. Motif Ranulf yang justru dieksplorasi, bukan justru sudut pandang Lyonene itu sendiri. Streotype tersebut menunjukkan posisi perempuan sebagai pihak yang diberi arti, bukan yang memberi arti dalam sebuah cerita. Sterotype-sterotype tersebut sangat mungkin hadir dengan sifat yang lembut dan terselubung hingga secara tak sadar melanggengkan stereotype-streotype yang telah ada di tengah masyarakat.

Kedua, stereotype terhadap perempuan di alam nyata. Hal yang paling sederhana dan sering kita jumpai yakni perempuan dan berbagai tugas domestic yang sudah menjadi “kewajibannya” jika ingin disebut sebagai seorang istri dan ibu yang baik. Hal lain, dalam hal ini saya sependapat dengan Jennie, bahwa tidak semua perempuan yang membaca romance bermotif ketidakpuasan mereka atas kehidupan yang mereka jalani. Bagi saya, pandangan Janice sendiri justru melanggengkan stereotype bahwa perempuan kerap menggunakan emosionalnya dengan mengenyampingkan logika mereka. Termasuk saat perempuan digambarkan memilih genre romance sebagai bacaan mereka sebagai sebuah pelarian dari kehidupan mereka di dunia nyata. Bagi saya paparan tersebut justru menggambarkan ketidakberdayaan perempuan menghadapi permasalahannya sendiri. Meskipun di sisi lain Janice menggambarkannya sebagai sebuah deklarasi kebebasan, sebagai sebuah perlawanan, namun tetap hanya sebagai bentuk kebebasan dan perlawanan yang sementara.

Jadi, bagaimana dengan kamu sendiri? Pernah membaca buku romance? Mari berbagi di sini 🙂

[1] Dalam Gender, Race and Class in Media,A Critical Leader, 4edition

[2] http://jennycrusie.com/non-fiction/essays/romancing-reality-the-power-of-romance-fiction-to-reinforce-and-re-vision-the-real/

Perempuan di tengah Kuasa Bahasa dan Wacana

In this climate of creeping authoritarianism, sexism, and racism, how do those of us in the anti-racist and women’s movement justify our seemingly narrow academic concern with language and discourse? – Gill Seidel

discourse-logo-sketchy

Sumber

Akhir tahun 2014 lalu, sebuah wacana hadir dengan nuansa yang sekilas ramah terhadap perempuan. Wacana tersebut terlahir dari seorang laki-laki yang berkuasa, orang nomor dua di negeri ini, yakni Wakil Presiden RI Jusuf Kalla yang mengusulkan adanya pengurangan jam kerja bagi karyawati perempuan, agar mereka bisa bermain lebih banyak dengan anak-anak mereka.

Wow! Ibu mana kan yang tidak senang memiliki waktu lebih untuk bermain dengan anaknya? Sekilas mungkin begitu. Namun, apakah iya pengurangan jam kerja ini baik bagi perempuan? Padahal tugas mengurus anak tidak hanya milik perempuan saja, kan? Para ayahpun juga harus turut andil mengambil bagian dalam mendidik dan membesarkan anak-anak mereka. Apalagi saat ini Indonesia ditengarai termasuk dalam fatherless country[1]. Tanpa disertai dengan wacana pengurangan jam kerja saja, karyawati perempuan harus bergulat dengan berbagai peraturan dan kondisi yang kurang menguntungkan baginya. Misalnya, upah yang dibedakan dengan laki-laki, peluang kerja yang juga seringkali lebih menguntungkan lelaki dikarenakan perbedaan biologis yang dimilikinya (sosiobiological perspective), juga keterbukaan peluang untuk menjadi top level management yang belum tentu dapat diterima lingkungannya. Apalagi jika ditambah dengan adanya aturan pengurangan jam kerja pada perempuan. Bisa terbayangkan implikasinya?

***

Ini tentang wacana, dan implikasinya pada kehidupan manusia, utamanya kaum minoritas. Hal yang disinggung Gill Seidel dalam artikelnya yang berjudul “Right-Wing Discourse and Power : Exclusions and Resistance”[2]. Dalam artikel tersebut, Seidel menggunakan Theoritical Distinction dari Guillaumin (1972) untuk melihat adanya perbedaan antara wacana mayoritas dan wacana minoritas. Ada dua tipe wacana yang berbeda yang diuraikan dalam artikel tersebut, yakni, wacana mayoritas tentang minoritas dan wacana yang hadir dari anggota kelompok minoritas. Keduanya memiliki ciri dan sifat yang berbeda, juga efek yang berbeda pula. Wacana mayoritas/dominan selalu menempatkan dirinya sebagai pihak yang netral dan objektif serta seringkali menyebabkan kebisuan dalam hubungan yang asimetris. Adapun wacana minoritas menempatkan penindasan sebagai pusat perhatiannya. Ia dilabeli dengan sifatnya yang subjektif, berkaitan dengan politik, emosional, dan histeris (over-reacting).

event_260440102

Sumber

Dalam artikelnya, Seidel juga membahas kekhususan pendindasan terhadap kaum perempuan yang seringkali mendapatkan diskriminasi berlapis, terutama ketika mereka berasal dari kalangan budaya minoritas, terlebih jika ia merupakan orang miskin dan tidak berpekerjaan. Meskipun terdengar memilukan, nyatanya kelompok minoritas, termasuk di dalamnya perempuan, masih dianggap sebagai ‘natural group’.  Artinya, segala hal yang menimpa perempuan, dan kelompok minoritas lainnya adalah hal yang alamiah saja, lazim terjadi. Kerangka intelektual yang mendasari sebutan natural group ini berasal dari perspektif sosiobiologis yang menempatkan bahwa perbedaan biologis menentukan nasib. Implikasinya, bagaimanapun juga perempuan akan dimanipulasi sebagai bagian dari kepentingan politis laki-laki. Maka, jika pada saatnya perempuan ingin ‘mendobrak’ anggapan itu, kembali lagi pada karakteristik wacana minoritas yang dinilai emosional dan berlebihan, hingga suaranya tak begitu dihiraukan.

”Woman are paradigm case of existensial minorities, in the sense of marginalization or exclusion of minority groups”- Gill Seidel

Hal tersebut mengingatkan kita pada pemikiran Bourdieu mengenai gender dan kekerasan simbolik. Bourdieu menyebutkan bahwa penguasaan atas wacana menjadikan dominasi laki-laki sekan wajar dan alamiah. Belum lagi pengorganisasian masyarakat yang disebut Bourdieu banyak menguntungkan kaum laki-laki. Misalnya saja, bentuk tubuh laki-laki menentukan aturan main dalam kebanyakan cabang olahraga dan profesi; siklus hidup laki-laki menentukan dalam mendefinisikan syarat-syarat keberhasilan profesi, agresitivitas dan dominasinya mendefinisikan apa yang disebut sejarah, dan lain sebagainya.[3]

Selain Bourdieau, tokoh lain yang juga bersinggungan dengan artikel dari Seidel ini adalah Foucault dengan bio-politiknya yang dekat dengan istilah sosiobiologis milik Seidel. Foucault mengungkapkan bahwa dalam situasi bio-politik, biologi diperhitungkan dalam strategi politik, dan seksualitas digunakan sebagai pertaruhan politik. Implikasinya, dibentuklah manajemen kehidupan melalui normalisasi atau pendisiplinan tubuh, mengontrol, dan mengatur penduduk.[4] Contoh yang dikemukakan Seidel yakni bagaimana rezim Nazi di Jerman menambah populasi Hitler Jerman dengan cara menghamili perempuan muda yang dengan ras arya. Atau ketika pemerintah Prancis mengampanyekan peningkatan kelahiran bayi yang berkulit putih karena khawatir dengan dominasi imigran dari Afrika Selatan.

Hal itu pulalah yang dapat menjelaskan mengapa Seidel dalam artikelnya amat erat membahas kondisi dan dinamika di lapangan mengenai kaum mayoritas-minoritas, dengan kekuatan politik yang berada di belakangnya (dalam hal ini yaitu kelompok ‘sayap-kanan’), karena wacana dominan tak bisa lepas dari rezim kekuasaan yang berada dibaliknya.

Notes :

[1] http://www.aktual.com/indonesia-masuk-dalam-fatherless-country-ini-penjelasannya/

[2] Dalam buku Critical Theory : Nature of The Right : Feminist Analysis of Order Patterns

[3]Diambil dari bahan mata kuliah Postmodernisme :  Habitus, Kapital, dan Arena dalam Strategi Kekuasaan oleh Romo Haryatmoko

[4] Diambil dari bahan mata kuliah Postmodernisme :  Michel Foucault dan Politik Kekuasaan oleh Romo Haryatmoko

Dulu dan Kini : Remediation Theory

Pernah mendengar benda bernama walkman? Dulu benda ini betul-betul menjadi benda yang keren dan menyenangkan-setidaknya bagi saya. Betapa tidak, untuk bisa mendengarkan lagu-lagu kesayangan tak lagi harus duduk manis di depan radio tape. Tak harus juga berebut dengan adik atau kakak tentang lagu mana yang ingin didengarkan. Maklumlah, suara radio tape sekecil apapun masih bisa didengarkan oleh orang lain. Dengan walkman, kita bisa mendengarkan lagu-lagu tersebut dimanapun dan kapanpun, secara personal melaui bantuan earphone, asal selalu sedia baterai AAA sebagai nyawanya. Syurga? Iya syurga untuk saat itu. Sampai akhirnya kedigdayaan walkman digeser oleh MP3 Player yang bisa terhubung langsung dengan port USB Komputer yang memungkinkan benda tersebut dapat diisi dayanya dengan hanya menghubungkannya dengan komputer, tidak lagi memerlukan baterai yang hanya dipakai saat ‘darurat’.  Bilangan kapasitas dari hitungan Megabyte (MB) hingga Gigabyte (GB)  ketika itu amatlah terdengar istimewa. Bagaimana tidak, jika walkman hanya mampu memperdengarkan lagu dari kaset yang amat terbatas jumlahnya, MP3 Player dapat menampung puluhan bahkan ratusan lagu di dalamnya. Wow! Iya, wow untuk saat itu pastinya 😀

Dunia berputar, teknologi berkembang. Walkman mulai ditinggalkan, MP3 Player tak banyak lagi digunakan, setelah muncul smartphone dengan kemampuannya yang maha. Tak perlu lagi banyak memiliki gawai, semua sudah ada dalam satu genggaman dalam benda bernama smartphone. Yeah! Keren? Iya, keren. Untuk saat ini, sekali lagi. Bahkan kita tak pernah tau dimanakah akhirnya perkembangan teknologi ini bermuara. Akan secanggih apakah lagi teknologi-teknologi di zaman anak cucu kita kelak. Ya, entahlah. Mungkin kita pun akan gaptek pada masanya~

Radio Tape ke Walkman ke MP3 Player ke Smartphone, inilah yang menurut Bolter dan Grusin (2000) sebut sebagai Remediation. Wow benda apalagi itu? Haha. Bukan, bukan benda. Dia adalah spesies teori. Remediation Theory. Asumsi teori tersebut adalah bahwa media baru hadir untuk menambal kelemahan/reformasi pada media lama. Jadi walkman hadir untuk menambal ke-tidak-portable-an radio tape. MP3 Player hadir untuk menambal keterbatasan ruang pada walkman, dan smartphone hadir untuk menambal keterbatasan-keterbatasan yang ada pada benda-benda sebelumnya.

Dalam proses remediation tersebut, ada dua cara yang biasanya dipakai untuk proses penyesuaian dari media lama ke media baru. Pertama yakni penyesuaian yang berdasarkan kandungan dari media yang lama. Misalnya yakni isi novel yang diadaptasi dalam bentuk film. Kedua penyesuaian berdasarkan bentuk dari media itu sendiri. Misalnya perubahan bentuk Radio tape hingga smartphone tadi. Teknik dasar penyimpanan suara diperbaiki dan didigitalisasi sedemikian rupa sehingga menciptakan bentuk media baru yang lebih efisien.

Bolter dan Grusin dalam bukunya Remediation : Understanding New Media mengenalkan teori mengenai remediation ini memiliki dua konsep yang saling berhubungan. Konsep pertama yakni, immediacy. Immediacy ini singkatnya merupakan pengalaman maksimal yang dirasakan oleh pengguna media dengan isi dari media tersebut, yang menjadikan seolah keberadaan media itu sendiri menjadi hilang. Misalnya, ketika kita menangis saat menonton film, ketika kita ikut terhanyut saat mengakses media sosial dan sejenak lupa dengan realitas di dunia nyata. Bolter dan Grusin(2000) berpendapat bahwa immediacy inilah yang ingin dicapai oleh setiap medium, dan menjadi alasan mengapa akhirnya reformasi pada media lama itu terjadi. Ya, untuk mencapai immediacy itu sendiri. Mengapa radio tape digantikan walkman, ya untuk membuat pengguna merasakan pengalaman yang lebih maksimal saat mendengarkan lagu kesayangannya. Begitu pula dengan kehadiran benda-benda setelahnya yang semakin memperbaiki kualitas pengalaman kita saat mengakses isi dari media tersebut.

Konsep kedua yang bertautan dengan immediacy yakni, hypermediacy. Jika dalam immediacy pengguna dibuat seolah-olah tak menyadari keberadaan media yang dipakainya karena hanyut dalam isi media di dalamnya, maka dalam hypermediacy, pengguna diberikan berbagai pengalaman  menggunakan media dalam berbagai platform dengan bantuan teknologi yang lebih rumit. Hypermediacy ini lebih tergambar saat kita membicarakan kehadiran media baru/internet yang menawarkan kecanggihan di dalamnya. Dengan satu kali klik, kita dapat membuka portal berita, yang di dalamnya ada streaming TV atau juga radio yang dahulu mesti diakses dengan gawai yang berbeda. Hypermediacy yang menawarkan ragam pengalaman menggunakan media ini pada akhirnya disebut Bolter dan Grusin (2000) sebagai upaya untuk mencapai immediacy itu sendiri. Singkatnya, immediacy depends on hypermediacy. Untuk dapat mendapai immediacy dibutuhkan kecanggihan teknologi dan berbagai pengalaman dalam bermedia (hypermediacy) yang memperbaiki pengalaman sebelumnya.

Jadi, kedua hal tersebut selalu saling berhubungan,logika immediacy-hypermediacy. Namun bedanya, hypermediacy dapat mendukung immediacy, tapi tidak untuk sebaliknya, immediacy tidak dapat membantu hypermediacy. Karena immediacy itu sendiri merupakan tujuan dari konsep hypermediacy.

 

Referensi :

Bolter, D.J dan Grusin, R. 2000. Remediation : Understanding New Media. Cambridge : MIT Press

Omar,Bahiyah. Teori Media Baru : Remediasi dalam Antologi Esei Komunikasi : Teori, Isu, dan Amalan. Malaysia : Penerbit USM.