Membangun Sensitivitas akan Minoritas melalui Cultural Studies dan Etnografi

Kira-kira apa yang pertama kali terpikir saat kita melihat sekumpulan orang yang memakai baju adat berwarna hitam atau putih lengkap dengan ikat kepala, berjalan beriringan tanpa alas kaki di perkotaan, dengan memikul barang di pundaknya? Barangkali apa yang kita pertama kali pikirkan : mereka adalah orang terbelakang. Setidaknya, mereka bukanlah orang yang berpendidikan, karena orang yang berpendidikan itu selalu memakai alas kaki –misalnya. Namun, seberapa validkah penilaian kita tersebut?

Adalah mereka, saudara kita dari Suku Baduy Dalam, sebuah kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Secara formal, Suku Baduy Dalam memang tidak mengenyam pendidikan sekolah layaknya kita. Pengetahuan akan adat-istiadat dan kepercayaan yang diajarkan pada mereka semua berupa tuturan lisan karena mayoritas dari mereka tidak bisa membaca ataupun menulis. Hal tersebut sudah menjadi salah satu aturan dari adat-istiadat yang mereka anut, sehingga sekuat apapun pemerintah ingin membangun sekolah dalam wilayah tersebut, selalu ditolak oleh masyarakat Suku Baduy Dalam.

Dengan demikian, lantas bukannya terbukti bahwa mereka adalah orang terbelakang? Mungkin iya, jika tolak ukurnya adalah pendidikan formal yang oleh masyarakat mayoritas dinilai sebagai indikator kemajuan kognisi seseorang atau sekelompok masyarakat. Namun, bila indikatornya adalah ramah terhadap lingkungan, bisa jadi mereka semua lebih beradab dibandingkan dengan orang yang mengenyam pendidikan formal tertinggi sekalipun. Masyarakat Baduy Dalam dikenal dengan sikapnya yang menjaga dan melestarikan alam sebagai bentuk tanggung jawab mereka dalam menjaga keseimbangan alam semesta. Maka tidak ada penebangan liar di sana, tidak juga sampah-sampah yang ikut mengalir di sunga-sungainya. Sehingga salah besar justru jika melabeli mereka dengan istilah terbelakang, karena dalam beberapa hal, bisa jadi mereka jauh lebih beradab dari kita kelompok mayoritas.

Belum lagi jika kita melihat bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain. Ketiadaan teknologi, juga ketiadaan listrik membuat hari-hari mereka dipenuhi dengan hubungan yang erat antara sesamanya. Kearifan local seperti kerja sama dan gotong royong pun sangat mereka pegah teguh. Hal yang barangkali menjadi sesuatu yang mahal dalam masyarakat modern dewasa ini, dimana individualism sudah dirasakan menjadi hal yang sangat mengganggu tatanan masyarakat ketimuran. Sepertinya terlihat terbelakang, tapi di sisi lain agaknya justru kita yang sedang berjalan ke belakang, terlihat seperti bergerak, padahal tengah bergerak mundur. Siapa yang kira? Sama hal nya jika kita melihat dari sisi kebebasan. Masyarakat modern, dengan berbagai teknologi yang memudahkannya, seringkali terjebak dalam budaya konsumerisme. Pada beberapa orang bahkan hingga batas yang tak wajar. Tak bahagia jika belum belanja. Resah jika melihat ada model terbaru yang belum dipunya. Lain halnya dengan masyarakat Baduy Dalam, di mana pakaian yang mereka kenakan haruslah buatan mereka, dengan model yang sederhana apa adanya. Meski tampaknya mengekang, atau bahkan menyedihkan, namun di sisi lain kita bisa melihat mereka sebagai orang yang merdeka dari penjajahan bernama konsumerisme, bukan?

Temuan demikian tentu tidak akan kita dapatkan dengan hanya melihat mereka sepintas lalu, apalagi dengan mengambil jarak dari mereka. Temuan demikian baru bisa kita maknai betul saat kita meneliti dan memberi ruang kritis yang memungkinkan kita untuk melihat sisi lain kehidupan mereka dengan lebih dekat, seraya memeriksa kembali bahasa yang kita gunakan agar sesuai dengan pandangan mereka. Bukan lagi bahasa dan pandangan kita sebagai seseorang yang merasa datang dari golongan mayoritas. Ada dua pendekatan penelitian yang bisa digunakan dalam konteks ini, yakni pendekatan cultural studies, dan pendekan etnografi. Pendekatan cultural studies relevan karena ia memberikan ruang dialog bagi bagi kaum intelektual, pemikir kritis, dan kelompok lain yang  tidak bisa diakomodir dengan pendekatan yang lain. Adapun etnografi merupakan fenomena interdisipliner yang muncul sebaai cara untuk melihat, berbicara, dan mempelajari beragam budaya dan masyarakat dengan cara yang tidak mengabadikan eksploitasi dan dominasi.

Dengan dua pendekatan tersebut, saat melihat Suku Baduy Dalam misalnya, peneliti akan lebih berhati-hati dalam merepresentasikan mereka. Tidak lagi melihat mereka sebagai ‘the other’, tetapi justru merangkul, dan menjadikan perbedaan yang ada sebagai keragaman kolektivitas yang berwarna. Tidak lagi mengambil ‘keuntungan’ atas diri mereka melalui tulisan-tulisan yang eksploitatif, tetapi justru selalu mengkritisi diri kita untuk senantiasa menginterogasi motif kita, arahan pekerjaan kita, agar tak terjebak dalam bentuk imperialisme yang baru. Pun sama halnya saat kita sebagai peneliti melihat orang-orang yang terpinggirkan. Hal yang harus dipegang teguh adalah bagaimana lewat tulisan tersebut, banyak orang tergerak untuk berpikir kritis tentang keberadaan orang-orang yang dianggap marjinal dalam sebuah lingkungan masyarakat, sehingga mampu meminimalisasikan tingkat diskriminasi atau stigma negatif yang beredar tentang mereka.

Referensi :

Hooks, Bell. 2015 Culture to Culture: Ethnography and Cultural Studies. Dalam Yearning: Race, Gender, and Cultural Politics.New York and London: Routledge

Advertisements

5 thoughts on “Membangun Sensitivitas akan Minoritas melalui Cultural Studies dan Etnografi

  1. Mengubah cara pandang atau setidaknya melihat kembali sehingga kita tidak mendiskriminasi mereka. Itu inti yang aku tangkap dari ilustrasi yang mbak Hani berikan. Bagaimanapun kita tidak bisa merepresentasikan seseorang atau sesuatu dari kacamata kita pribadi tanpa mempelajarinya lebih dulu.

    Like

  2. Artikel mba Hani menunjukkan perlunya memahami latar belakang seseorang untuk menghindarkan kita dari memberi judgement tak beralasan bagi orang lain. Memang, selalu ada alasan dibalik semuanya kan? Bukan berarti membiarkan bahkan membenarkan keadaan, seperti pengemis di pinggir jalan yang minta-minta karena memang kurang makan. Pemahaman bisa menekan perilaku tak sopan, namun apa yang mereka butuhkan bukan belas kasihan.. pemahaman bisa digunakan untuk pendekatan, hingga akhirnya kita bisa membenahi keadaan.

    Like

  3. Pada akhirnya kembali lagi pada acuan kita dalam memaknai sesuatu. Terbelakang itu menurut standar siapa dulu? Kalau acuannya masyarakat modern ya jelas terbelakang, tapi kan belum tentu bagi mereka itu terbelakang. Pendekatan etnografi memang tepat untuk menganalisis bagaimana individu menjalani budayanya dalam kehidupan sehari-hari.

    Like

  4. Menarik sekali bagaimana cultural studies mengajarkan agar dunia pertama (kelompok dominan) memandang kelompok minoritas (dunia ketiga). Cultural studies semacam ini seharusnya lebih didalami penentu kebijakan dan pemerintah agar tidak memotong peradaban dan kehidupan atas nama pembangunan. Pada sebuah penelitian waktu itu didaerah suku bajo (saya di wanci – wakatobi) rasanya ingin menangis mendengar kisah penduduk lokal tentang bagaimana pembangunan pariwisata wakatobi justru “mengusur” suku bajo. Akhirnya mengundang pergolakan – demo yang tak terliput media tentunya karena nun jauh disana. Namun ketika dalam kontek kehidupan pribadi akhirnya jadi menyadari tidak mudah menumbuhkan sensitifitas minoritas – karenanya membagi berbagai pikiran tentang minoritas melalui sosial media sangat bermanfaat mengingat minimnya keberpihakan media mainstream terhadap minoritas.

    Like

  5. Pertanyaan saya sederhana, apakah mbak Hani pernah berinteraksi sekaligus pernah meneliti secara langsung Suku Baduy Dalam, atau Anda tidak pernah sama sekali melakukannya? Kalau tidak pernah meneliti mereka secara langsung, dan hanya memperoleh data Suku Baduy Dalam dari perkataan dan artikel orang lain, alangkah lebih baik bila memberi contoh lainnya saja yang terkait dengan hal-hal yang pernah kita teliti/amati secara langsung, di pembahasan artikel dalam blog Anda, apalagi pembahasan kali ini tentang etnografi dan kajian budaya. Akan tetapi, kalau Anda pernah meneliti Suku Baduy Dalam secara langsung, maka perlu saya apresiasi dengan menyebut Anda sebagai Ahli dalam Studi Minoritas.
    #041, #SIK041

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s