On Media Memory

Sometimes you will never know the true value of  a moment, until it becomes a memory– Unkwon

Begitulah salah satu ungkapan yang mengutip tentang memori, bahwa kita hanya bisa mengerti nilai sebuah momentum saat hal tersebut sudah menjadi memori, sudah terlewat dan menjadi ingatan dalam benak kita. Di satu sisi, hal tersebut bisa jadi benar. Terkadang saat kejadian terjadi, antara kita tidak menjadi bagian langsung yang berada di tempat tersebut, atau kita tidak begitu faham apa yang sedang terjadi, sebuah momen bisa terlewat begitu saja. Barulah beberapa saat setelahnya, kita bisa memahami apa yang terjadi. Entah faham begitu saja, diberi tahu orang yang lebih faham tentang hal tersebut, ataupun melalui pencarian informasi yang disengaja, melalui media misalnya. Namun dibalik hal tersebut, yang tak kalah penting untuk kita pertanyakan adalah, bagaimana sebuah memori akan sebuah momen itu terbentuk? Apakah memori adalah otoritas seorang individu?

Ternyata tidak. Sosiolog asal Prancis, Maurice Halbwach, dalam publikasinya “On Collective Memory” (1992/1925, 1980/1950) menyatakan bahwa ingatan individu tidak terlepas dari memori kolektif yang berkembang di lingkungan sosialnya. Memori kolektif dalam hal ini didefinisikan sebagai ingatan yang dikembangkan suatu kelompok sosial, yang menekankan keunikannya, dan memungkinkannya untuk melestarikan citra tersebut pada generasi berikutnya (p.4).  Apalagi dengan kehadiran media sebagai agen memori yang memiliki peran strategis dalam mengonstruksikan peristiwa-peristiwa yang sudah berlalu sesuai dengan tipologi medianya, dan membentuknya sebagai sebuah memori kolektif di tengah-tengah masyarakat. Peran strategis media itulah yang setidaknya menjadi sabab musabab, mengapa istilah “On Collective Memory” puluhan tahun kemudian berkembang menjadi  “On Media Memory”. Sebagai sebuah perspetif baru, media memory (dalam On Media Memory Collective Memory in a New Media Age, 2011), dimaksudkan untuk melihat secara integral bagaimana keterkaitan antara pembentukan memori kolektif dan peran media dalam mengubah konteks budaya, politik, dan teknologi di tengah masyarakat.

Memori kolektif sendiri, dalam pembahasan di buku On Media Memory Collective Memory in a New Media Age, disebutkan sebagai suatu hal yang kompleks. Namun setidaknya terdapat 5 karakteristik yang dapat menerangkannya, yakni : 1) Memori kolektif dibentuk secara sosio-politis ; 2) Pembentukan memori kolektif merupakan proses yang berlangsung secara berkesinambungan dan dari berbagai arah (tidak linear) ; 3) Memori kolektif bersifat fungsional ; 4) Memori kolektif harus dalam bentuk konkret ; dan 5) Memori kolektif bersifat narasi.

Sebagai ilustrasi, mari sejenak menggali memori kita akan peringatan Gerakan 30 September/ Partai Komunis Indonesia (G-30 S/PKI). Sebagai seseorang yang tidak berada di zaman di mana kejadian tersebut berlangsung, apa yang saya ketahui mengenai G-30 S / PKI ini didominasi melalui cerita dalam buku-buku sejarah di sekolah, dan juga dalam media film yang wajib ditonton saat berada di sekolah dahulu. Apa yang kemudian tersimpan hingga saat ini, bahwa PKI adalah orang jahat yang sadis, bahwa mereka adalah orang yang harus bertanggung jawab atas meninggalnya Ade Irma Suryani (maklumlah, Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani menjadi taman favorit saya di masa kecil), dan sederet citra negatif lainnya yang melekat pada PKI. Di sisi lain juga saya turut merasakan betapa hebat dan heroiknya para Jenderal-Jenderal dan segenap pahlawan yang digambarkan dalam film fenomenal tersebut. Memori saya sudah barang tentu bukan sekedar memori pribadi, tetapi juga merupakan bentukan yang juga berasal dari memori kolektif.

Seiring berjalannya waktu, terbukti bahwa memori tersebut merupakan bentukan sosio-politis semata. Setelah zaman reformasi, berbagai teori yang menjelaskan mengenai peristiwa tersebut mulai bermunculan. Sesuatu yang tak mungkin didapati saat zaman orde baru berlangsung. Dan pemaknaan akan memori tersebut akan terus berproses secara kontinyu, apa yang kita fahami saat ini akan mempengaruhi pemaknaan kita akan memori masa lalu. Kemudian karakter fungsional, jelas terlihat dari batas-batas yang dibuat dalam memori tersebut, mana kelompok yang baik, mana kelompok yang jahat bisa dengan mudah kita sebutkan. Mengapa dengan mudah? Karena telah dibuat dalam bentuk konkret—dalam hal ini berbentuk buku sejarah dan film, yang juga terdapat narasi di dalamnya.

Selain konsep mengenai memori kolektif, hal yang juga tak kalah penting untuk dibahas adalah mengenai pertanyaan kunci dalam media memory. Setidaknya ada dua pertanyaan utama yang berasal dari dua konsep utama cultural studies, yakni agency dan context, dengan penjabaran sebagai berikut :

A. Media Memory and Agency

Pertanyaan ‘agency‘ dalam kaitannya dengan media memory berfokus pada kapasitas dan otoritas individu dan organisasi untuk beroperasi sebagai agen memori. Eksplorasi semacam itu tentu saja terkait dengan pertanyaan yang lebih umum, yakni tentang peran media dalam membentuk identitas kolektif.

A1. The Question of Authority

Siapakah yang memiliki otoritas untuk menarasikan cerita kolektif akan masa lalu? Apa sumber otoritas dari media secara umum dan khusus dalam berperan sebagai agen memori? Saat ini, sebuah peristiwa sejarah yang besar mendapatkan makna dari publik tidak hanya melalui interpretasi dari akademisi dan mereka yang disponsori oleh Negara, tetapi juga melalui televisi, film, dan pers (Edgerton dan Rollins, 2001; Zandberg, 2010; Zelizer, 1992). Di sisi lain media memberikan sarana berinteraksi bagi para agency dalam mengkonstruksikan peristiwa, tetapi juga di sisi lain memiliki ‘kekuasaan’ tersendiri dalam menentukan hal tersebut.

A2.  The Question of Defining the Collective

Apa peran media dalam menentukan batasan kolektivitas dan bagaimana definisi tersebut berinteraksi dengan peran media sebagai agen memori? Dalam hal ini, batasan kolektivitas tidak bisa dipisahkan dengan khalayak yang mengonsumsi media yang sama. Misalnya, Republika memiliki khalayak dengan kolektivitas yang berbeda dengan kolektivitas khalayak Kompas, karena karakter khalayak antara dua media tersebut pun berbeda. Pertanyaan mengenai digital memories sebagai implikasi dari perkembangan teknologi media baru juga menjadi fokus pembahasan dari poin ini.

A3. The Question of Personal/Private Memory vs Collective/Shared Memory

Pertanyaan ini berfokus pada ketegangan dan hubungan saling menguntungkan antara ingatan personal/pribadi dan kolektif/memori bersama, yang dikaburkan oleh semakin jenuhnya lingkungan media. Artinya, apa yang memisahkan (dan bagaimana kita bisa membedakannya antara) pribadi dan personal/tangan-pertama/individual dan sosial/Dimediasi/kenangan kolektif?

B. Media Memory and Context

Pertanyaan ‘konteks’ menyangkut keadaan dan tempat di mana representasi Media Memory dapat diamati, dialami, dan diteliti.

B1. The Question of Circumstances

Metode yang paling umum dalam menyelidiki keberadaan dan pengaruh ingatan kolektif yakni menyelidiki cara pandang saat ini dalam membentuk pengertian tentang masa lalu. Cara lain yang tak umum yakni, metode menangani ingatan kolektif dengan tujuan untuk melacak pergerakan dari masa lalu ke masa kini.

B2. The Question of Venues/Outlets

Pertanyaan seputar hal ini terkiat dengan kapan dan dimana penelitian mengenai media memory berlangsung, misalnya : “dimanakah kita harus menempatkan fokus analitis kita dalam menyelidiki fenomena ini, haruskah kita fokus pada tempat yang populer atau agak elit? Media lama atau baru? Tempat yang menghasilkan akun fiksi masa lalu atau tempat lainnya yang lebih peduli dengan ‘nilai kebenaran’ atau faktualitas?

 

Referensi :

On Media Memory, Introduction. Dalam On Media Memory : Collective Memory in a New Media Age. 2011.

 

 

Advertisements

5 thoughts on “On Media Memory

  1. Hmm.. jadi bertanya-tanya. Betapapun seringnya kita merekonstruksi sejarah di alam pikiran kita, dengan berbagai referensi, pada akhirnya itupun tidak mampu menunjukkan kondisi sesungguhnya saat itu karena pengaruh memori manusia yang terbatas, maupun kekuasaan sekelompok orang tertentu yang punya kepentingan memutar balikkan atau menutupi fakta yang ada. Mendadak ngeri, karena jadi sulit untuk mempercayai apapun dan siapapun…

    Like

  2. Setuju dengan apa yang dikatakan kenny, membaca tulisan mba hani paling tidak menyadarkan betapa segala sesuatu yang kita tahu walaupun itu dari sumber yang notanene dianggap benar, kita tidak bisa take it for granted, asal percaya tanpa mencari tahu lebih jauh lagi..

    Like

  3. Dan yang lebih penting jangan hanya dari satu sumber saja…
    Meskipun jika dilihat dari dokumen atau akses kita untuk mengkroscek kembali sejarah yg sudah “ditulis” masih terbatas dan belum bisa kita percayai sepenuhnya, setidaknya mulai untuk melihat dan lebih aware thd sejarah sehingga kita tidak salah dalam bertindak di masa depan

    Like

  4. Kalau sudah begini menjadi makin bingung yah harus percaya yg mana, dan bagaimana tahu itu sumber asli atau bukan… Kita juga harus lebih pintar dalam memilah2 informasi yg kita dapatkan di media

    Like

  5. Setelah saya membaca artikel di atas, tenyata mbak belum menggambarkan secara gamblang mengenai bagaimana caranya mengubah memori kolektif yang keliru yang mana memori kolektif tersebut didapat dari media? Hal ini (mengubah memori kolektif yang keliru) saya rasa menjadi sesuatu yang penting, sebab memori kolektif yang selama ini kita anggap benar, tetapi sebenarnya keliru, maka perlu adanya pelurusan/tindakan korektif, agar memori kolektif individu tersebut tidak selalu berada dalam kekeliruan. Pada contoh artikel di atas, seperti memori kolektif terkait peristiwa G-30 S/PKI perlu diperbaiki, sebab film terkait hal tersebut sejatinya merupakan bentuk propaganda dan pencitraan yang dibangun oleh penguasa Orde Baru untuk meninabobokan pemikiran kritis warga negaranya atas peristiwa yang sebenarnya terjadi.
    #041, #SIK041

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s