Constructing Religious Identity on The Internet

Siapa kita di dunia nyata dan siapa kita di dunia maya? Dalam dua dunia tersebut bisa jadi kita adalah dua orang yang berbeda, bahkan mungkin dua pribadi yang saling berkebalikan. Sama halnya dengan gambar di atas, dalam internet, siapapun bisa menjadi apapun yang dia inginkan. Bahkan kasarnya, seekor anjing sekalipun di arena internet dengan karakter “body-less”nya, bisa menyembuyikan identitasnya sebagai seekor anjing. Ia bisa bertransformasi menjadi apapun yang Ia sukai, dan pribadi manapun yang Ia inginkan.

Adalah Mia Lovheim dan Alf G. Linderman, dalam tulisan mereka yang berjudul “Constructing Religious on The Internet” yang mencoba untuk mengulas bagaimana identitas agama seseorang dikonstruksikan dalam media Internet. Identitas yang dimaksud adalah proses dimana individu merelasikan dirinya dalam kelompok tertentu. Karena proses konstruksi identitas di media online tak lepas dari proses interaksi sosial yang terjadi di dalamnya, maka mengutip pendapat Gidden (1991), kepercayaan sosial menjadi kategori dasar yang relevan dalam proses konstruksi identitas tersebut. Kepercayaan inilah yang akan membantu seseorang menemukan siapa dirinya, dan akhirnya siapa mereka (yakni kelompok sosial tempat dia bernaung). Interaksi sosial yang didasari oleh kepercayaan sosial itulah yang disebut sebagai kapital sosial, dimana semakin banyak seseorang memiliki relasi dengan orang lain, berinteraksi dengan banyak orang di luar dirinya, maka makin tinggi juga kapital sosial yang dia miliki.

Dalam hal ini, Lovheim dan Linderman mengutip pendapat Robert Putnam (2000:22) yang membuat perbedaan antara kapital sosial bonding dan bridging. Bonding merupakan bentuk kapital sosial yang baik secara pilihan maupun kebutuhan melihat ke dalam dan bermaksud untuk menguatkan identitas yang ekslusif dan kelompok yang homogen. Sebaliknya, bridging melihat keluar dan menjaring orang dari berbagai belahan sosial yang beragam. Lovheim dan Linderman mengatakan bahwa komunitas agama biasanya merepresentasian kedua jenis kapital sosial tersebut. Orang dari latar belakang sosial yang berbeda  datang bersama (bridging) untuk membentuk identitas agama yang relatif homogen (bonding).

Lovheim dan Linderman berpendapat bahwa proses interaksi sosial tersebut terjadi di dunia internet dengan mengacu pada apa yang dikatakan sebagai resources dan restrictions. Bahwa internet dengan segala macam fitur yang dimilikinya memungkinkan seseorang untuk mendapatkan pengetahun dan keterampilan baru (resources), namun di sisi lain juga tidak dapat dipungkiri bahwa untuk mendapatkan hal tersebut dibutuhkan kemampuan dan keterampilan yang bisa jadi tidak dimiliki oleh semua orang (restriction). Beberapa orang dalam konteks pendapatan, gender, dan ras tertentu masih terbatas untuk dapat mengakses informasi tersebut. Dalam hal ini internet, seperti dalam penelitian Susan Herring, merefleksikan atau bahwa menguatkan ketidaksetaraan tertentu yang terjadi di masyarakat. Lalu bagaimana seseorang terhubung dengan berbagai kelompok agama melalui internet? Sebuah penelitian di Swedia yang dikutip dalam artikel tersebut mengidentifikasi ada 3 cara dimana internet menyediakan jalan yang menghubungkan mereka dengan berbagai kelompok agama, yakni :

1) Information, dimana seseorang mencari dan menyebarkan informasi tentang kepercayaan dan praktiknya yang beragam.

2) Interactivity, dimana seseorang merespon dan mendapatkan respon dari orang dari konteks yang berbeda.

3) Interdependence, dimana seseorang membangun dan menegakkan jaringan di seluruh ruang dan waktu.

Untuk menjelaskan ketiga cara tersebut, sejenak mari kita kembali ke masa dimana aplikasi yahoo messenger menjadi hal yang popular di masyarakat—atau setidaknya popular bagi saya pribadi. Saat itu, kira-kira di tahun 2005an, saya begitu senang  menggunakan aplikasi yang memungkinkan saya untuk berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai Negara dengan berbagai latar belakang yang berbeda. FItur favorit yang sering saya gunakan yakni chat room dengan kategori favorit : religion and beliefs. Favorit? Iya favorit, karena dari chatroom tersebut saya bisa bertemu dengan berbagai macam orang dengan berbagai macam latar belakang agama dan pemahaman (bridging) untuk kemudian mencari brother-sister dan saudara-saudara yang menurut saya seiman dan sepemahaman dengan saya (information sekaligus bonding). Dalam hal ini, internet bukan hanya tempat mencari informasi, namun juga kesempatan untuk menyampaikan pandangan seseorang (yang miliki kemampuan dalam mengaksesnya) akan sesuatu. Internet dapat digunakan oleh para penganut kepercayaan tertentu untuk menyampaikan pandangannya yang menyimpang dan tidak terakomodir di dunia nyata.

Pandangan-pandangan yang disampaikan tersebut, melalui chatroom misalnya, kemudian mendapatkan respon dari yang lainnya (interactivity), baik berupa konfirmasi ataupun dukungan yang memungkinkan penyampainya merasa bahwa Ia tidak sendirian. Ada orang-orang yang sama dengan dirinya. Meskipun cara-cara setiap orang dalam berinteraksi pun berbeda. Ada yang memilih untuk menjadi pasif dan tidak terlibat dalam percakapan langsung, ada yang secara aktif berdebat dan berargumen dengan yang lainnya, ada pula yag memilih untuk menggunakan jalur pribadi untuk kemudian berinteraksi dengan yang lainnya. Dan kegiatan-kegiatan tersebut dengan kemudahan yang disediakan oleh internet, terus berjalan. Membangun jejaring dari satu ruang ke ruang lain, dari satu waktu ke waktu yang lain (interdependence).

Lalu, dengan mengambil contoh gerakan Islamic States of Iraq and Syria (ISIS) dengan berbagai perkembangannya di Indonesia dan belahan dunia lain misalnya, bagaimana menurut Anda menjelaskan fenomena tersebut dengan menggunakan beberapa konsep di atas? 🙂

Referensi :

Lovheim, Mia, dan Linderman, Alf. G. 2005. Constructing Religious Identity on The Internet dalam Religion and Cyberspace. Newyork : Routledge

Advertisements

6 thoughts on “Constructing Religious Identity on The Internet

  1. mbak Hani, apakah “agama” dalam ranah online yang dimaksud dalam tulisan ini sama dengan “agama” dalam ranah offline? Bagaimana dengan kepercayaan-kepercayaan yang terbentuk dari media, misalnya film tentang penyihir dan dia percaya akan itu kemudian membentuk komunitas tertentu dan mencari yang sepaham dengan dia? apakah itu sama dengan konsep Bonding dan Briging yang dimaksud Lovheim and Linderman dalam artikel ini?

    Liked by 1 person

  2. Menarik ya mengetahui bagaimana seseorang terhubung dengan berbagai kelompok agama melalui internet dengan membaca hasil penelitian di Swedia yang mengidentifikasikan ada 3 cara dimana internet menyediakan jalan yang menghubungkan mereka dengan berbagai kelompok agama, yakni :1) Information, dimana seseorang mencari dan menyebarkan informasi tentang kepercayaan dan praktiknya yang beragam.
    2) Interactivity, dimana seseorang merespon dan mendapatkan respon dari orang dari konteks yang berbeda.
    3) Interdependence, dimana seseorang membangun dan menegakkan jaringan di seluruh ruang dan waktu.

    Bagaimana perkembangan teknologi menyediakan chat room bagi kita untuk berinteraksi dan berdiskusi tentang agama dan bagaimana internet dapat menjadi tempat bagi mereka yang memiliki pandangan yang tidak diterima di dunia nyata. Di Indonesia misalnya seperti Gafatar yang juga memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan ajaran mereka.

    Like

  3. kalau mengambil contoh pertanyaan mba hani mengenai gerakan Islamic States of Iraq and Syria (ISIS) dan dikaitkan dengan menggunakan beberapa konsep di atas mungkin kurang lebih begini ya mba hani..

    Berdasarkan sumber yang saya dapat, Twitter yang notabene menjadi salah satu media sosial favorit kelompok ISIS untuk menyebarkan paham, merekrut anggota baru dan bahkan mengumpulkan dana bantuan ini berarti berperan sebagai platform bagi ISIS dalam proses bridging. Hasilnya, nama ISIS makin sering dibicarakan dan pengikutnya pun makin bertambah yang artinya terjadilah proses Bonding.

    Like

  4. Dunia maya seperti internet, merupakan dunia yang dapat menghubungkan setiap orang melampaui batas-batas geografis maupun batas-batas seperti agama, etnis, dan ras. Kita dapat menjelma menjadi apapun, karena dalam dunia maya kita tak terlihat secara fisik. Namun, tetap saja ketika kita log in ke dunia maya, kita tetap mencari orang-orang yang memiliki agama yang sama, seperti yang Mbak Hani contohkan mengenai fitur Chat Room khusus Religion di Yahoo Messanger. Pada akhirnya di dunia maya kita tetap mencari orang-orang yang memiliki kesamaan dengan kita untuk diajak berinteraksi dan membangun relasi-relasi baru berdasarkan kesamaan tersebut.

    Like

  5. Saya kira gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di internet, di era kemudahan siapapun dalam mengakses internet, tidak bisa terbendung pergerakannya, meskipun Pemerintah Indonesia telah berupaya mengantisipasi gerakan radikalisme, melalui adanya Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Menurut analisa Saya, satu hal yang penting yang harus kita pegang adalah tingkat kesadaran kita terkait di mana kita tinggal/berada. Kita seharusnya menyadari bahwa kita tinggal di Indonesia yang masyarakatnya mempunyai latar belakang agama yang beragam. Kita juga seharusnya menyadari dan mengaplikasikan semboyan Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu jua), yaitu sebagai bangsa Indonesia. Mereka penganut paham radikal (simpatisan ISIS) yang posisinya ada di Indonesia, seharusnya tidak bisa memaksakan kehendak dan keyakinannya saja, di dalam menyikapi kehidupan berbangsa dan bernegara yang realitanya majemuk. Lalu, bagaimana tanggapannya Mbak Hani sendiri terkait fenomena gerakan ISIS, khususnya di internet?
    #041, #SIK041

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s