Media and Women Image : a Feminist Discourse

o-CELEBRITY-SWAN-facebook

Reality Show The Swan (Sumber)

Sepasang mata itu menangis, Ia meratapi dirinya yang seringkali mendapatkan cacian, hinaan, dan makian karena bentuk fisiknya. Tubuh yang gempal dengan lipatan lemak penuh garis stretch mark pada perut,  kulit yang tak mulus, mata dengan ukuran minus yang besar, gigi yang tak rapi, ditambah dengan tinggi badan yang tak seberapa menjadi sumber ketidakbahagiaannya. Hingga akhirnya layak ibu peri, datanglah sekelompok ahli yang menyelamatkan perempuan tersebut dari deritanya. Dibawanyalah perempuan tersebut ke sebuah tempat karantina yang tak memiliki cermin di dalamnya–bahkan juga tak memiliki benda-benda yang bisa memantulkan bayangan seperti sendok. Mulai hari itu, Ia menjalani serangkaian proses transformasi diri dari perempuan yang biasa saja-atau bahkan tak cantik, menjadi perempuan cantik yang menarik bagi orang banyak. Adalah The Swan, program yang menampilkan perubahan tersebut dengan mengikuti tahap demi tahap perjalanan yang harus dilalui sang perempuan agar tampak cantik. Mulai dari sedot lemak, perapihan susunan gigi, hingga operasi di sana sini yang tentu bukan tanpa risiko. Selama program berlangsung, tubuh perempuan dieksplorasi oleh para ahli yang memberikan pandangan-pandangan tentang apa yang akan mereka lakukan pada perempuan tersebut. Hingga akhirnya suatu hari, seluruh rangkaian yang melelahkan itu usai, dia tampil cantik layaknya bintang iklan kebanyakan, dan memulai kehidupannya dengan lebih bahagia.

Before-After The Swan (Sumber)

Streotyping, begitu Sumita Sarkar menyebut penggambaran perempuan di media, dalam artikelnya yang berjudul Media and Women Image : a Feminist Discourse. Media, baik media cetak ataupun visual telah membentuk streotype mengenai kriteria kecantikan dan tubuh ideal yang membuat perempuan harus mengikuti kriteria tersebut untuk  dapat dikatakan cantik dan normal. Padahal, kriteria cantik yang digambarkan sebagai muda, tinggi, dan kurus –bahkan sangat kurus hingga di bawah standar tubuh sehat- seperti model itu tidak realistis dan sama sekali sulit digapai bagi kebanyakan perempuan.

 

Sakar kemudian mengutip pendapat beberapa ahli feminis dalam memandang issu tubuh, gambaran, dan identitas, dengan terlebih dahulu menjelaskan definisi dari subjektivitas. Subjektivitas, meminjam bahasa Weedon (1997) didefinisikan sebagai kesadaran dan ketidaksadaran pemikiran dan emosi seseorang akan perasaannya terhadap dirinya, dan caranya dalam memahami hubungannya dengan dunia. Dalam hal ini, dunia bisa jadi merupakan media popular dan usahanya untuk terhubung dan tak berbeda dengan penggambaran di dalamnya. Lacan (2001) beragumen bahwa seseorang kehilangan rasa otonominya saat dia menyadari bahwa dirinya merupakan objek yang tampak, karena sejak itu dia akan berpikir tentang seperti apa dia terlihat bagi orang lain. Adapun Mulvey (1975) mengidentifikasi pandangan lelaki dalam setiap konstruk sosial atas feminitas, yang dengan hal tersebut identitas positif dari perempuan menjadi tersembunyi. Ada ketidaksetaraan relasi kekuasaan di sana, antara yang menonton (laki-laki) dan yang ditonton (perempuan), antara memandang dan yang dipandang, dan hal tersebut membawa perempuan pada objektifikasi.

image001

Objektifikasi Tubuh Perempuan (Sumber)

Dalam media, objektifikasi tersebut terlihat dengan penggambaran perempuan yang hanya menjadi objek kepuasan libido kaum laki-laki dalam budaya patriarki. Perempuan dan gambaran tubuh yang ideal atasnya dikomersialisasikan dan dikomoditisasikan secara nyata melalui berbagai iklan, yang produknya mengajak perempuan lain untuk memenuhi tubuh ideal tersebut. Misalnya dalam contoh di atas mengenai reality show The Swan. Sekilas barangkali program tersebut terlihat berguna, setidaknya bagi mereka yang tertolong. Namun, sebetulnya yang ditolong pun merupakan korban dari stereotype dan objektifikasi terhadap perempuan di lingkungan sosial, yang kemudian dikomersialisasi dan dikomoditisasi dalam tayangan program yang menyedot perhatian banyak orang (dan pasti menghasilkan pundi-pundi uang pula).

Bagaimanapun juga, tidak bisa dipungkiri bahwa kriteria tinggi, muda, dan sangat kurus membuka peluang bagi banyak produk untuk bisa memasarkan barang dagangannya (profitable). Obat peninggi badan, obat pelangsing, kosmetik anti penuaan dini, makanan-makanan yang penuh nutrisi, bahkan sarana-sarana kesehatan seperti fitness pun menjadi ladang subur bagi mereka yang mengambil untung atas konstruksi cantik yang dilegitimasi masyarakat. Tak hanya menampilkan gambaran tubuh ideal, bahkan di era post liberalis, iklan-iklan lebih berani untuk menampilkan tubuh perempuan bahkan dalam kondisi telanjang, dengan teks iklan yang memicu pemberlakuan seksisme dan menegaskan proses objektifikasi dan komoditisasi terhadap tubuh dan gambaran perempuan. Seolah, apa yang dihadirkan dalam iklan itulah yang disebut sebagai kesempurnaan sebagai perampuan. Padahal, kesempurnaan yang ingin dicapai itupun bersifat semu, karena bahkan modelnya itu sendiri tidak sempurna dan masih membutuhkan bantuan teknologi –aplikasi photoshop misalnya-untuk bisa terlihat cantik di media. Sehingga perempuan tidak hanya tertindas secara politis melalui gambaran tubuh yang ideal, namun juga tereksploitasi secara komersil dalam rangka memenuhi konstruksi ideal tersebut.

Di akhir artikelnya, Sakar mengutip apa yang Devereux (2003:9) sampaikan bahwa media massa merupakan agen penting dalam transformasi dan perubahan sosial. Mereka secara erat terikat dengan proyek kapitalis dan mereka memainkan peran penting dalam reproduksi dan keberlangsungan beragam jenis ketidaksetaraan di tingkat local, nasional, dan global. Namun apa yang dilupakan oleh media yakni uraian yang berperspektif gender dan ketidaksetaraan gender, untuk mendukung perempuan—khususnya konteks India.

kacamata-gender1

Perspektif gender (Sumber)

Referensi :

Sarkar, Sumita. 2014. Media and Women Image: a Feminist Discourse, Journal of Media and Communication Studies, vol. 6 (3) page. 48-58

Advertisements

6 thoughts on “Media and Women Image : a Feminist Discourse

  1. Membaca tulisan ini membuat saya jadi terpaku memikirkan nasib saya sebagai perempuan 😥 seolah-olah dari dulu sampai saat ini perempuan benar benar dijadikan objek, bedanya kalau dulu perempuan seolah menjadi objek karena dianggap tidak berdaya dan tidak melek informasi dan saat ini dianggap menjadi objek karena berdaya dan melek akan informasi tetapi informasi yg ada di media sudah merupakan hasil bentukan para dominan.

    Bahkan beberapa artikel anti feminist berargumen bahwasannya memang perempuan sendiri lah yang justru menjadikan dirinya sendiri sebagai Komodifikasi melalui ketersediaan mereka untuk menerima dan mengikuti apa-apa yang disampaikan media. Sehingga media merasa diuntungkan dan akan terus menciptakan konten-konten yang bersifat mengkomodifikasikan perempuan.
    Terdengar sangat kompleks bukan.

    Like

  2. Mirisnya, standar kecantikan yang ditetapkan oleh media (seperti yang dikemukakan oleh Sarkar sesuai dengan budaya populer yang berkembang) bagaimanapun juga tetap membahayakan bahkan merenggut kehidupan seseorang, entah dia yang belum memenuhi standar itu atau bahkan yang sudah memenuhi standar itu. Kenapa demikian, karena menurut pengamatanku, standar itu justru menimbulkan bullying yang membuat seseorang (yang dibully) menjadi menderita. misalnya saja karena dia “dianggap” cantik (sesuai standar kecantikan dalam media), dia di-bully oleh teman-temannya karena dirasa mengganggu atau bahkan karena iri. beberapa kasus menunjukkan hal itu. apalagi sekarang dengan adanya media sosial orang dengan bebas mencaci maki atau menjadi hatters dari seseorang yang tidak disukainya.

    Like

  3. Share yang menarik tentang tesis Sumita Sarkar dalam Media and Women Image : a Feminist Discourse. Tanpa disadari begitulah “kriteria standar” kecantikan wanita dari kaum pria dilanggengkan media dengan membentuk streotype mengenai kriteria kecantikan dan tubuh ideal wanita.

    Like

  4. Mba Hani, artikel diatas mengingatkan aku pada program televisi yang cukup populer : america’s next top model. Bagaimanapun, model-model dalam acara tersebut, menurut saya ya, bukan tipe-tipe yang biasa kita kenal sebagai ‘cantik’, setidaknya tidak semuanya. Karena warna kulit yang beragam, bentuk rambut yang berbeda-beda. Satu saja kesamaannya, yaitu tubuh yang langsing. Pada hal ini, ya, benar bahwa perempuan dikomodifikasikan, bahkan secara sadar mereka ‘menjual’ tubuh mereka di hadapan publik untuk sebuah rating acara. Namun, jika mengacu pada teori De Beauvoir, kadang justru inilah eksistensi perempuan, dan saat dirasakan mereka terkomodifikasikan dan diposisikan lemah, disaat yang sama justru mereka memiliki power. Setidaknya, bukankah itu pilihan mereka untuk mengikuti program tersebut? Dan lagi, bukankah sedikit terbayang jika program tersebut tanpa kehadiran mereka?

    Like

  5. Ada sepenggal pernyataan dalam review di atas: ‘…apa yang dilupakan oleh media yakni uraian yang berperspektif gender dan ketidaksetaraan gender, untuk mendukung perempuan-khususnya konteks India’. Ketika membaca pernyataan tersebut, justru memunculkan beberapa pertanyaan. Pertama, tulisan itu berpersepsi kalau media melupakan ketidaksetaraan gender. Maaf sebelumnya, Mbak Hani, bukannya praktik media itu sarat dengan ketidaksetaraan gender, bukannya praktik media itu lebih menguntungkan pihak laki-laki dan mengopresi perempuan, bagaimana tanggapan Mbak terkait pernyataan Mbak di tulisan tersebut, yang terkesan keliru? Kedua, khususnya konteks India, kenapa hanya India?; adakah alasan khusus terkait pemilihan konteks India tersebut? Pertanyaan yang kedua ini perlu pula dilontarkan, karena opresi terhadap perempuan ada di mana-mana, tidak hanya di India.
    #041, #SIK041

    Like

  6. Gak kebayang apa jadinya dunia ini kalau misalnya saat bangun pagi kita bercermin, dan kita merasa tidak peduli lagi dengan tampilan diri kita. Make up, obat pelangsing, celana pelangsing, dan segala macam pelangsing dan pembuat cantik pasti gak laku yahh hahaha. Intinya kalau ngikutin standar pasar melulu, gak bakal ada habisnya. Model-model iklan makin lama makin kurus, orang-orang yang bertulang besar (alasan) seperti saya begini susah untuk ngikut arus pasar. Jadi kita harus lebih percaya diri dengan bentuk tubuh sendiri 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s