Encoding-Decoding : Studi Pemaknaan Pesan Stuart Hall

Stuart-Hall-006

Stuart Hall- (Sumber)

Siapa yang tidak mengenal Stuart Hall? Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, nama Stuart Hall tidak terlepas dari deretan ahli-ahli yang sumbangsihnya terhadap ilmu ini sangat signifikan. Pentolan dari Mazhab Cultural Studies tersebut dikenal dengan pemikirannya yang kritis dengan penggabungan beberapa disiplin ilmu di dalamnya, seperti sejarah, antropologi, sastra, linguistik dan sebagainya. Sebagai salah satu teoritis Cultural Studies, Hall juga mengulas mengenai budaya populer, dominasi elit, dan munculnya kelompok minoritas. Salah satu pemikirannya yang akan kita bahas dalam artikel ini yakni  Teori 4 Tahap Komunikasi yang terdiri dari tahap Produksi, Sirkulasi, Penggunaan (Distribusi/Konsumsi), dan terakhir reproduksi. Teori tersebut menjadikan makna dan pesan sebagai objek perhatian utama dalam tiap tahapnya. Hall mengatakan, tahapan-tahapan tersebut memiliki karakteristik yang relative otonom atas tahapan lainnya. Tahapan pengodean pesan misalnya, membuat kontrol akan tahapan penerimaannya. Namun hal tersebut tidak berlangsung secara jelas. Setiap tahap  memiliki sendiri penentuan batas dan kemungkinan di dalamnya. Jika harus disarikan dalam sebuah kalimat apa inti dari teori tersebut, barangkali seperti ini : bahwa pesan apa yang dikonstruksi oleh media sebagai pemroduksi pesan –dalam konteks Hall yakni media televisi-, tidak selalu dimaknai serupa oleh khalayaknya. Dalam hal inilah Hall mengenalkan mengenai istilah Encoding-Decoding.

image004

Sumber

Encoding mengacu pada tahapan produksi dimana realitas yang mentah, suatu peristiwa yang terjadi di lapangan, dipotret, dikonstruksikan, serta dibingkai sedemikian rupa, dengan penggunan-penggunaan bahasa yang cenderung menggunakan bahasa dari ideologi kelompok dominan (dominant or preferred meanings). Pembentukan pesan dalam tahap produksi tersebut juga melibatkan pengetahuan mengenai seperti apa penerima yang akan disasar, bagaimana karakteristik mereka untuk menentukan bagaimana bentuk pesan tersebut dikemas hingga menarik bagi penerimanya. Hingga, dalam hal ini Hall mengutip pembahasaan Phillip Elliot bahwa khalayak merupakan “receiver” sekaligus juga “source” atas sebuah pesan media. Sehingga sangat jelas terlihat bahwa sebuah pesan diproduksi dengan melalui serangkaian proses yang tidak sederhana agar pesan tersebut menjadi sebuah wacana yang bermakna (meaningful discourse) yang dapat dipahami dan diterima sebagai suatu hal yang lazim.

 Meskipun telah diusahakan sedemikian rupa agar bisa dimaknai sama dengan maksud awalnya, namun proses Decoding sangat bisa membuat makna awal tersebut diterima berbeda. Perbedaan tersebut dipengaruh oleh persepsi, pemikiran, dan pengalaman masa lalu, yang bagi setiap orang pun mesti tak sama. Selain itu, Hall juga mengungkapkan bahwa khalayak dalam hal ini tidak hanya menerima pesan, tetapi juga bisa mereproduksi pesan yang disampaikan. Dengan demikian, Hall menyebutkan bahwa antara encoding dan decoding ini memiliki struktur makna yang tidak simetris. Derajat simetris dalam hal ini dimaksudkan sebagai derajat pemahaman serta kesalahpahaman dalam pertukaran pesan, dan derajat tersebut bergantung pada kesetaraan hubungan yang dibentuk antara pembuat pesan dan penerimanya.

Secara umum, Stuart Hall membagi tiga posisi ketika seseorang melakukan decoding atas pesan. Pertama, posisi dominan-hegemonis  (dominant-hegemonic position).  Media menyajikan penafsiran yang dominan atas suatu isu / peristiwa, dan seseorang menafsirkan pesan seperti yang dibuat oleh media. Kedua, posisi oposisional (oppositional position).  Posisi ini kebalikan dari posisi dominan, dimana khalayak memberikan tafsiran yang berbalikan dengan yang dibuat oleh media. Khalayak melakukan perlawanan atas pemaknaan dominan yang dibuat oleh media. Ketiga, posisi negosiasi (negotiated position). Di sini khalayak menerima pemaknaan dominan yang dibuat oleh media, tetapi  khalayak juga memberikan penafsiran atas pemaknaan yang dibuat oleh media.

Sebagai ilustrasi, masih ingat iklan salah satu merek terkemuka air dalam kemasan yang mengangkat mengenai “jasanya” dalam membuat sumber air di daerah-daerah kering? “Sekarang mata air su dekat”, begitu ucap salah satu anak dalam iklan tersebut. Sebagai sebuah iklan, tentu proses di balik pembuatannya sudah melalui serangkaian pengodean yang unik agar citra sebagai produsen air dalam kemasan yang peduli sesama tertanam di benak khalayak (encoding). Selain itu juga untuk mendongkrak penjualan produknya, karena dalam iklan dikatakan, dengan kita membeli 1 Liter produknya, maka kita telah menyumbang 10 Liter air untuk saudara kita yang membutuhkannya.

akua1

Salah satu gambaran adegan dalam iklan. (Sumber

Pertama kali saya melihat iklan tersebut dahulu, apa yang pertama terlintas yakni “Wow..keren ya merek besar ini bisa bantu banyak orang”(decoding). Seriuslah itu kesan pertama saya terhadap iklan tersebut, terenyuh dengan penggambaran saudara di Indonesia timur yang kekurangan air, dengan tokoh seorang anak sekolah yang sering membantu ibunya mengambilkan air untuk mandi adiknya (dominant-hegemonic position). Hingga saat menonton bersama suami, ia mencibir “Cih, duit dia buat bikin iklan itu mesti lebih banyak dari apa yang udah dipakai untuk bantu bikin sumber airnya,”katanya sinis (oppositional position). Belum lagi cerita di balik air yang disedot perusahaannya, yang meninggalkan nestapa bagi masyarakat yang tinggal di lingkungan sekitar pabrik. Selain dua posisi dominant-hegemonic dan oppositional di atas, dapat dimungkinkan juga terdapat pihak yang dalam men-decoding pesan yang sama berada dalam posisi negotiated, misalnya “Membantu sesama yang kekurangan air itu memang hal yang baik, tapi caranya ga harus selalu dengan membeli merek tersebut”. Di satu sisi menerima preferred meanings yang disodorkan oleh pembuat pesan bahwa betul ada hal baik yang dilakukan oleh merek tersebut, namun di sisi lain juga memiliki pendapat tersendiri atas pesan tersebut dengan ungkapan bahwa membantu mereka tak harus dengan jalan membeli mereknya.

Referensi :

Hall, Stuart. 2001. Encoding-Decoding : Media and Cultural Studies, Eds. Meenakshi Gigi Durham & Douglas M. Kellner. Massachusetts: Blackwell Publishers Inc.

Advertisements

6 thoughts on “Encoding-Decoding : Studi Pemaknaan Pesan Stuart Hall

  1. Proses Encoding and Decoding yang dituliskan oleh Stuart Hall bisa dibilang sebagai bentuk kritik Hall terhadap komunikasi linier atau searah di media massa ya mba, yang mana pesan dikirimkan dan diterima oleh audiens sesuai dengan pengalaman atau background dari audiens tersebut yang mana mempengaruhi proses pemaknaan akan pesan yang disampaikan oleh media masa, baik menerima, menyangkal atau meragukan informasi yang disampaikan oleh media.

    Nah, kalau dalam konteks media baru atau Internet apakah konsep yang dikenalkan Hall ini masih relevan atau berlaku digunakan ya mba?

    Terima kasih mba hani 🙂

    Like

  2. Ketika kita hanya menelan mentah-mentah apa yang dikatakan oleh media (yang Hall bilang sebagai Encoding), maka kita terjebak dalam pemikiran sesuai dengan kehendak media. media kemudian menentukan cara pandang kita terhadap suatu produk. Bisakah aku sebut pada akhirnya produk yang menguasai kita melalui iklan dan proses pemaknaan pesan iklan tersebut dalam diri kita tersebut mempengaruhi pandangan kita terhadap produk itu.

    Like

  3. Duh renyah seperti keripik, jadi bahasan Stuart Hall menjadi enak dicerna. Pada proses encoding kita sebagai khalayak tidak bisa berbuat banyak. Namun sebaliknya pada proses decoding – seperti yang diungkapkan Stuart Hall ada 3 posisi yaitu dominan hegemonis ; oposisional ; negosiasi membuat kita sebagai khalayak dapat melakukan berbagai penguatan melalui berbagai bentuk penyadaran agar selain menerima pemaknaan dominan yang dibuat oleh media, tetapi kita juga memberikan penafsiran atas pemaknaan yang dibuat oleh media.

    Like

  4. Berarti ketika sebuah pesan dikirimkan, katakanlah dalam konteks ini misalnya berita di sosial media, akan di decodingkan oleh seseorang berdasarkan pengalaman mereka. Maka, ada hubungannya pengolahan pesan tersebut dengan lingkungan, pendidikan hingga kepentingan yaa.. lalu bagaimana dengan hoax, mba? Seseorang yang berpendidikan ternyata bisa termakan hoax, karena sebuah kepentingan. Artinya terkadang sebuah decoding bisa menafikkan pengalaman yang lain dan mengacu pada pengalaman yang lebih dekat dengan kebutuhannya, begitu kah? Thank you mba Hanii..

    Like

  5. Menarik mengkaji pemikirannya Hall terkait Encoding Decoding, bahwa penonton/audiens dalam satu sisi bisa menjadi penerima pesan, disisi lain bisa menjadi sumber. Bila dikaitkan dengan sisi praktis, maka ada pertanyaan yang ingin saya sampaikan. Pihak-pihak mana saja/audiens berkarakter seperti apa yang berpotensi hanya sebagai penerima pesan saja?, lalu pihak-pihak mana saja/audiens berkarakter seperti apa yang berpotensi sebagai penerima sekaligus sebagai sumber pesan? Selain itu, apakah pemaknaan penonton atas konten media untuk masa yang akan datang, selalu terkait dengan tiga posisi tersebut (dominan, negosiasi dan oposisi)?, adakah kemungkinan posisi lain, di luar tiga posisi pemaknaan tersebut?, kalau ada, posisi pemaknaan seperti apa?
    #041, #SIK041

    Like

  6. Terkait dengan bahasan mengenai encoding dan decoding ini, kira-kira faktor apa saja yah mba yang memengaruhi seseorang untuk menjadi pihak yang posisinya dominan-hegemonis, atau oposisional, maupun negosiasi? Apakah hanya dipengaruhi oleh perbedaan persepsi, pemikiran, dan pengalaman masa lalu saja? Atau adakah faktor lain seperti pendidikan atau ideologi seseorang?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s