Women Read The Romance : Between The Despair and Hope?

Tersebutlah Ia Dorothy Evans, seorang perempuan pekerja di sebuah toko buku yang rekomendasinya mengenai buku romance mana yang baik untuk dibaca ataupun mana yang harus dihindari, amat didengar oleh para pelanggannya. Janice Radway, dalam artikelnya yang berjudul : “Women Read The Romance : The Interaction of Text and Context[1] mengatakan bahwa penelitiannya terhadap Dot Evans serta para pembacanya sudah berlangsung selama kurang lebih 60 jam wawancara sejak Juni 1980 hingga Februari 1981. Dalam kurun waktu tersebut, Janice banyak menggali dari Dot mengenai romance, ikut membaca dan memperhatikan aktivitas Dot dalam merekomendasikan buku, serta memperhatikan interaksi Dot dengan pelanggannya langsung di toko buku.

Dot Evans tinggal dan bekerja dalam sebuah komunitas di kota Smithton, sama halnya seperti kebanyakan dari pelanggannya. Saat penelitian berlangsung usianya 48 tahun,  Ia seorang istri dari seorang tukang pipa, dan seorang ibu dari tiga anaknya yang telah dewasa. Ia, dalam deskripsi Janice, digambarkan sebagai seorang perempuan yang cerdas, berwawasan luas serta fasih. Meski tidak menyebutkan dirinya sebagai feminis, Ia berpegang pada beberapa nilai yang mengarah ke sana. Dot juga merupakan orang yang secara implisit mempercayai nilai dari true romance dan sepenuhnya menikmati untuk mencari lagi dan lagi bahwa perempuaan dapat menemukan laki-laki yang akan mencintai mereka seperti mereka berharap akan dicintai. Adapun pelanggan Dot kebanyakan lebih konservatif dibandingkan dengan Dot. Mereka sangat memperhatikan bahwa laki-laki kerap berpikir bahwa dirinya superior dari perempuan dan seringkali salah dalam memperlakukan mereka sebagai hasilnya. Namun, mereka tidak melakukan langkah advokasi politik untuk memperbaiki keluhan-keluhan mereka itu.

Membaca Romance : Deklarasi Kebebasan Sementara

Ketika ditanya mengapa mereka membaca buku romance, mereka menyebut pelarian atau relaksasi sebagai tujuannya. Penyebutan kata pelarian ini sendiri mengacu ke dalam pengertian baik secara harfiah maupun kiasan. Di satu sisi, mereka membaca romance karena saat membaca mereka  meninggalkan sejenak dunia nyata, untuk dapat memahami ceritanya dengan memberikan perhatian secara khusus pada kata-kata dalam halaman buku tersebut. Pelarian ini bagi mereka lebih elegan dibandingkan pelarian melalui menonton televise, karena bagi mereka, membaca secara alamiah adalah tindakan yang terpelajar. Mereka juga memastikan bahwa mereka membaca untuk belajar. Di sisi lain, pembaca Smithton sangat mengakui bahwa romance yang sangat menyita pikiran mereka itu lebih dari sebuah fantasi atau cerita dongeng yang selalu berakhir bahagia. Mereka menyadari bahwa dalam faktanya, karakter dan kejadian yang mereka temukan di dalam halaman-halaman buku tersebut tidaklah menyerupai orang-orang yang harus mereka hadapi sehari-hari. Ketika ditanya hal apa yang dimiliki oleh romance yang tidak dimiliki oleh novel lain, mereka menjawab bahwa justru karena ia tidak nyata, bentuk fantastic dari ceritanya membuat pelarian itu menjadi lebih komplit dan memuaskan.

Beberapa dari komentar para pembaca tersebut juga menyiratkan kesedihan bahwa hidup tidak menjanjikan hal yang sama. Sebuah rasa yang mendalam akan pengkhianatan juga tampak dalam ekspresi sederhana mereka dalam kebutuhan untuk mempercayai sebuah dongeng yang menipu. Namun, meskipun mereka merasa kecewa (dengan kehidupan nyata), mereka merasakan penyegaran dan penguatan dengan kehadiran mereka dalam hubungan fantasi dimana tokoh perempuan diperlakukan sebagaimana mereka ingin diperlakukan saat dicintai. Secara tidak malu, mereka juga mengakui bahwa mereka suka untuk memuaskan diri dalam pelarian sementara karena mereka menghindari tekanan dan tegangan yang mereka alami sebagai seorang istri dan ibu, karena tugas dan pekerjaan mereka sebagai seorang istri dan ibu sangatlah menguras dan kerap tidak dihargai.

Membaca romance dalam hal ini merupakan sebuah deklarasi kebebasan sementara dari peran sosial mereka sebagai seorang istri dan ibu. Dengan mencipatkan jarak antara buku dan keluarga, para perempuan tersebut menyiapkan sebuah ruang yang istimewa untuk mereka sendiri. Sebagai konsekuensinya, mereka sesaat mengizinkan diri mereka untuk mengabaikan sikap pengorbanan diri yang utuh dalam kepentingan keluarga yang mereka telah patuhi sebagai sikap yang tepat bagi seorang istri dan ibu yang baik. Membaca romance pun merupakan sebuah pernyataan yang tegas akan kebutuhan psikologis yang mendalam dan sebuah sarana untuk memuaskan hal tersebut. Sederhanya, kebutuhan tersebut timbul karena tidak ada orang lain dalam keluarga tersebut, pada kondisi saat ini dalam masyarakat yang patriarki, yang bisa memenuhi pemulihan afektif dan emosional sang istri ataupun ibu. Ketika dia menghabiskan waktu untuk melindungi yang lain, bagaimanapun juga dia mengharapkan untuk memulihkan serta mempertahankan dirinya dengan baik.

Membaca Romance dan Implikasinya

Membaca kisah romance juga membuat para perempuan pembaca di Smithton memahami perilaku pasangan mereka. Mereka mulai menginterpretasi ulang hal-hal yang tidak menyenangkan dari suaminya dan mengganggap hal tersebut bukanlah bentuk bahwa dia tidak dicintai. Kebiasaan membaca membuat mereka terbiasa untuk melupakan dan memaklumi ketidakhangatan suami mereka, dan hal tersebut dapat terrbawa ke dalam level bawah sadar yang dimaknai sebagai tanda kecenderungan, kesetiaan, dan cinta. Namun, mereka sendiri berpendapat bahwa beberapa jenis dari perilaku laki-laki yang diasosiasikan dalam stereotype machismonya, tidak bisa dimaafkan atau dibaca ulang sebagai bentuk cintanya.

Di akhir tulisannya, Janice menyebutkan bahwa jika kita serius tentang politik feminis, dan berkomitmen untuk memformulasikan ulang-tidak hanya kehidupan kita- tapi juga mereka di luar sana, maka sudah sepatutnya kita tidak merendahkan pembaca romance sebagai tradisionalis tak berpengharapan yang keras kepala dengan penolakan mereka untuk mengakui korban emosional dari patriarki. Kita harus mulai menyadari bahwa pembaca romance bermula dari rasa ketidakpuasan dan ketidaksenangan, bukan pada kepuasan yang sempurna atas nasib sebagai perempuan. Lebih jauh, kita juga harus memahami bahwa mereka ditandai dengan rasa kerinduan yang disebabkan kegagalan pernikahan patriarki dalam membahasakan kebutuhan mereka.

By helping romance readers to see why they long for relationality and tenderness and are unlikely to get either in the form they desire if current gender arrangement are continued, we may help to convert their amorphous longing into focused desire for specific changes..”-Janice

Kritik terhadap Janice

Jennie Cruise,seorang penulis buku romance, dalam artikelnya yang berjudul “Romancing Reality: The Power of Romance Fiction to Reinforce and Re-Vision the Real[2], menunjukkan ketidaksetujuannya dengan pendapat berbagai kalangan bahwa romance adalah sebuah fantasi belaka. Bagi dia,dunia yang ada dalam romance justru lebih nyata daripada berbagai literasi yang pernah ditemuinya. Banyak dari bacaan akademisnya yang menyatakan bahwa fiksi didalamnya merefleksikan dunia laki-laki yang dituliskan dengan otoritas laki-laki. Namun Jenny menyangkal itu dan mengatakan bahwa novel romance justru memperlihatkan kemampuan dan kekuatan perempuan dengan memperlihatkan keaktifan dari tokoh perempuan, dan kontrol yang cerdas atas kehidupan mereka.

Kutipan Jenny atas Janice yang pertama yakni terkait pembaca romance yang seringkali disebut sebagai orang yang terlalu bodoh untuk bisa melihat bahwa dalam realitasnya, mereka sudah terkooptasi oleh patriarki ketika mereka membaca romance. Dalam argumennya, Janice menyatakan hal tersebut disebabkan karena pembaca romance hanya membaca untuk mendapatkan ceritanya saja, tidak untuk memperhatikan bahasa di dalamnya. Hal ini dikritik oleh Jennie,karena fakta akademisnya, kebanyakan dari semua orang membaca untuk mendapatkan cerita. Sehingga argument Janice dalam hal ini dipandang tak beralasan. Jenny juga mengkritik pemosisian pembaca romance sebagai orang yang tidak mendapatkan hal yang diinginkan dalam kehidupan nyata, hingga lari ke dalam cerita romance sebagai kompensasi terhadap minimnya perhatian terhadap mereka. Jennie berargumen bahwa dari sudut pandang statistic, pembaca romance rata-rata merupakan orang yang lebih bahagia dan bercinta lebih dari mereka yang tidak membaca romance.

Kutipan kedua dimana Jennie mengkritik Janice yakni terkait pernyataan Janice yang mengrkitik kegemaran novel romance pada detail pakaian. Menurut Janice, tokoh perempuan secara alamiah digambarkan menyukai fashion. Hal tersebut, baginya, merupakan bentuk ketidaksadaran atas konvensi budaya dan stereotype dari penulisnya yang menetapkan bahwa perempuan selalu bisa dikarakteristikkan dengan kegemarannya yang universal atas pakaian. Namun, berbanding terbalik dengan Janice, Jennie berpendapat bahwa penggambaran tersebut justru menginformasikan tentang realitas kehidupan dari seorang perempuan.Perempuan gemar dengan detail seperti pakaian dan lingkungan karena kebanyakan dari kita merupakan nyonya dari komunikasi yang tak terucapkan (mistresses of unspoken communication). Perempuan justru bisa bercerita banyak tentang seseorang dengan hanya melihatnya, dibandingkan dengan mendengarkan suaranya. Oleh karena itu, Jennie bersikeras bahwa fiksi romance menguatkan validitas akan kegemaran dari perempuan itu sendiri.

By the end of the month, I’d skimmed or read almost a hundred romance novels and two life-changing things happened to me: I felt more powerful, more optimistic, and more in control of my life than ever before, and I decided I wanted to write romance fiction. Anything that did that much good for me, was something that I, as a feminist, wanted to do for other women.”-Jennie

Sebuah Pandangan Pribadi

Membaca perbedaan sudut pandang antara Jennie dan Janice membawa saya menyelami sebuah telaahan mengenai sosiologi sastra dengan dua pertanyaan besarnya, yakni apakah karya sastra itu merupakan refleksi dari kondisi sosial, ataukah justru membiaskan kondisi sosial yang ada. Dalam hal ini, apakah buku romance itu merefleksikan perempuan itu sendiri, ataukah justru membiaskannya. Namun lepas dari kajian yang lebih mendalam tentang hal tersebut, ada dua hal yang setidaknya menjadi perhatian saya setelah membaca artikel Janice, pertama yakni terkait stereotype mengenai perempuan yang terdapat dalam buku romance, dan yang kedua adalah stereotype terhadap perempuan di luar buku tersebut atau di alam nyata .

Streotype dalam artikel Janice misalnya terkait perempuan dan pakaian yang sebelumnya disebutkan di atas, kemudian juga penggambaran suatu kejadian dalam romance yang seringkali lebih memperlihatkan motif dari tokoh lelakinya dibandingkan dengan tokoh perempuannya itu sendiri. Janice mencontohkan dalam buku The Black Lyon saat Ranulf melecehkan pengantin mudanya, yang pembaca dapat mengerti adalah bahwa apa yang dilakukannya terhadap Lyonene adalah hasrat irasional untuk melukai, yang timbul akibat perbuatan yang pernah dilakukan oleh istrinya dahulu terhadapnya. Motif Ranulf yang justru dieksplorasi, bukan justru sudut pandang Lyonene itu sendiri. Streotype tersebut menunjukkan posisi perempuan sebagai pihak yang diberi arti, bukan yang memberi arti dalam sebuah cerita. Sterotype-sterotype tersebut sangat mungkin hadir dengan sifat yang lembut dan terselubung hingga secara tak sadar melanggengkan stereotype-streotype yang telah ada di tengah masyarakat.

Kedua, stereotype terhadap perempuan di alam nyata. Hal yang paling sederhana dan sering kita jumpai yakni perempuan dan berbagai tugas domestic yang sudah menjadi “kewajibannya” jika ingin disebut sebagai seorang istri dan ibu yang baik. Hal lain, dalam hal ini saya sependapat dengan Jennie, bahwa tidak semua perempuan yang membaca romance bermotif ketidakpuasan mereka atas kehidupan yang mereka jalani. Bagi saya, pandangan Janice sendiri justru melanggengkan stereotype bahwa perempuan kerap menggunakan emosionalnya dengan mengenyampingkan logika mereka. Termasuk saat perempuan digambarkan memilih genre romance sebagai bacaan mereka sebagai sebuah pelarian dari kehidupan mereka di dunia nyata. Bagi saya paparan tersebut justru menggambarkan ketidakberdayaan perempuan menghadapi permasalahannya sendiri. Meskipun di sisi lain Janice menggambarkannya sebagai sebuah deklarasi kebebasan, sebagai sebuah perlawanan, namun tetap hanya sebagai bentuk kebebasan dan perlawanan yang sementara.

Jadi, bagaimana dengan kamu sendiri? Pernah membaca buku romance? Mari berbagi di sini 🙂

[1] Dalam Gender, Race and Class in Media,A Critical Leader, 4edition

[2] http://jennycrusie.com/non-fiction/essays/romancing-reality-the-power-of-romance-fiction-to-reinforce-and-re-vision-the-real/

Advertisements

6 thoughts on “Women Read The Romance : Between The Despair and Hope?

  1. Hai Mba Hani hehehe. Aku tertarik dengan pernyataan Janice yang mengatakan bahwa membaca romance merupakan bentuk pelarian bagi seorang perempuan. Bagaimana ya, kalau disebut pelarian itu kesannya ada ketidak tahanan terhadap situasi di dunia nyata hingga beralih ke novel-novel tersebut. Tapi, bukankah novel itu sendiri sebenarnya berfungsi sebagai teman relaksasi, semacam teh herba hangat di sore hari? Aku setuju dengan pendapatmu, bahwa mungkin Janice sendiri telah termakan stereotipe tersebut sehingga memberikan pandangan sedemikian rupa ya.. Aku sendiri suka membaca komik atau novel romance ketika di usia-usia tertentu, misalnya waktu SMP atau SMA yang dipikiranku isinya cuma cinta-cintaan saja. Ya wajar bukan sih, itu kan hormonal yaa, remaja perempuan puber.. Pada akhirnya, kita membaca apa yang menarik buat kita. Dan ketertarikan itu kan sifatnya subjektif, mestinya tidak boleh dipandang yang satu (katakanlah lelaki lebih suka baca majalah otomotif) lebih tinggi dibanding yang lainnya..

    Like

  2. wahh keren banget tulisannya Mbak Hani. Menarik banget ya kajian dari Janice A Radway ini. Membaca Romance : Deklarasi Kebebasan Sementara. Menarik ya ketika pembaca novel roman di Smithon mengunakan bacaan mereka untuk menginterpretasi ulang hal-hal yang tidak menyenangkan dari suaminya dan mengganggap hal tersebut bukanlah bentuk bahwa dia tidak dicintai. Menariknya ketika digambarkan lewat tokoh utama pria Ranult dalam “The Black Lyon”yang digambarkan darkly handsome and rich – memiliki puri – yang tak peduli kepada isterinya bukan karena tidak mencintai istrinya. Melainkan sebaliknya karena perasaan cintanya yang begitu dalam. Saya membaca kisah Ranult dan Lyonene di https://sample-7d57ed94ea525644a0503c6386d7d908.read.overdrive.com/?p=black-lyon

    Benarkah perempuan digambarkan memilih genre romance sebagai bacaan mereka sebagai sebuah pelarian dari kehidupan mereka di dunia nyata? Bagi saya sendiri – sebagai perempuan – meyakini kehidupan kita masing-masing jauh lebih roman dari novel-novel roman itu sendiri. Baik kisah dramanya maupun kisah-kisah lainnya. Setidaknya kajian Radway menunjukkan pembaca itu bersifat aktif bukan sebaliknya.

    Like

  3. Menurut saya, apa yang direpresentasikan dalam novel romansa, tidak lepas dari pengarang novel itu sendiri. Jika pengarang novel adalah perempuan, maka gambaran laki-laki dalam novel cenderung bersikap sebagaimana yang perempuan inginkan. Contohnya seperti novel The Twilight Saga karya Stephenie Meyer . Jika dilihat dari sisi romansa, perempuan tentu suka diperlakukan spesial oleh para lelaki seperti Edward dan Jacob memperlakukan Bella. Saya jadi ingat pernah menawarkan novel The Twilight Saga ini ke teman laki-laki, dan tanggapannya ialah “Enggak ah, ceritanya cewek banget.”. Intinya, novel romansa menawarkan cerita untuk kaum perempuan, sehingga perempuan lebih menikmati jalan cerita dan dapat pula digunakan sebagai pelarian dari kehidupan dunia nyata.

    Like

  4. Perempuan = genre romance, Laki-laki = genre action
    stereotipe yang udah tertanam selama ini, khususnya di benakku, meskipun aku sendiri tidak suka novel atau film romance.
    Jika menelisik lagi yang dikatakan Janice, novel romance engekspresikan perasaan yang kuat oleh sebab itu diidentikkan dengan perempuan. Tapi, jika pembaca justru menganggap bahkan mengharapkan kehidupannya seindah novel romance yang dibacanya, bukankah secara tidak langsung dia menyesali kehidupan yang dijalaninya? Tidak berdaya untuk menciptakan kehidupan indahnya sendiri..
    Agak sulit memang memahami maksud Janice, tapi membuat kita berpikir kembali apakah benar novel romance mencerminkan kehidupan kita, ataukah justru menunjukkan ketidak berdayaan perempuan?

    Like

  5. Setelah membaca review di atas, Saya merasa penulis masih menjelaskan buku/novel romance ditataran discourse, sehingga justru memunculkan pertanyaan. Apakah mbak Hani Noor hobby membaca novel/buku romance? Kalau iya, alasannya apa dan kasih contoh judul bukunya?, kalau tidak hobby, alasan juga apa? Pertanyaan ini muncul, karena Saya melihat mbak Hani Noor lebih menilai dan terjebak dalam perbedaan pemikiran di antara dua tokoh dalam artikel tersebut (Jennie dan Janice), tetapi tidak menjelaskan di tataran practice/doxa. Saya ingin mengetahui alasan konkretnya, kenapa mbak suka atau tidak suka dengan buku romance?, dan apakah alasan itu terkait dengan pengalaman masa lalunya?
    #041, #SIK041

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s