Hegemoni : Ideologi, Media, dan Perlawanan Atasnya

Halo! Sudah sampai kita di tulisan ke empat, nih  :). Kali ini sumber bacaan diambil dari sebuah tulisan milik James Lull dalam Gender, Race, and Class in Media : a Text Reader (Second Edition), yang berjudul Hegemony. Sebuah istilah milik Antonio Gramsci yang berarti kekuatan atau dominasi yang terjadi saat sebuah kelompok mengendalikan kelompok lainnya. Hegemoni adalah dominasi dan subordinasi dalam hubungan struktur yang didasarkan pada kekuasaan. Namun, ia lebih dari kekuatan sosial itu sendiri, ia adalah strategi untuk mendapatkan dan memelihara kekuasaan.

Mengupas lebih jauh tentang hegemoni tentu tidak bisa terlepas dari menelisik bagaimana teori hegemoni ini muncul. Pemikiran Gramsci mengenai hegemoni didasari oleh pemikiran Karl Marx bahwa sarana produksi akan menentukan karakteristik masyarakat. Marx membagi masyarakat ke dalam dua golongan berdasarkan posisi ekonominya, yakni kaum elit (borjuis) dan kaum pekerja (proletar). Salah satu gagasan penting dari Marx yakni mengenai dua sruktur yang ada dalam masyarakat, yakni base (pabrik, modal, tanah dsb) dan superstructure (ideologi, keyakinan, pemahaman dsb). Elit selalu berusaha menguasai kedua struktur tersebut, baik base ataupun superstructure. Elit bukan hanya menguasai aset, modal dan mode of production yang lain, tetapi juga keyakinan dan ideologi warga. Tetapi dari dua struktur itu, yang paling penting adalah base. Menurut Marx, superstructure akan selalu mengikuti base. Karena itu, kaum pekerja harus melakukan revolusi untuk merebut base. Jika base bisa dikuasasi, maka superstructure akan mengikuti dengan sendirinya.

 

16739173-abstract-word-cloud-for-hegemony-with-related-tags-and-terms-stock-photo

Sumber

Namun ternyata tidak semua asumsi dalam teori Marx dapat sepenuhnya terbukti. Kenyataan tersebut membuat beberapa orang ahli mengembangkan kembali gagasan Marx yang kemudian dikenal sebagai Neo Marxis, atau Marxisme kritis. Jika Marxis percaya bahwa base lebih penting dari pada superstructure, maka Neo Marxis lebih menitikberatkan pada superstructure. Kaum Neo Marxis lebih tertarik untuk mempelajari ideologi dan keyakinan daripada basis ekonomi. Kalangan Neo Marxis juga percaya bahwa base bisa mengikuti superstructure.

Salah satu konsep penting dari Neo Marxisme adalah hegemoni dari Antonio Gramsci. Pemikiran tersebut didasarkan pada ide Marx mengenai kesadaran palsu (false consciousness), yakni suatu keadaan dimana individu menjadi tidak sadar dengan dominasi yang terjadi pada diri mereka. Gramsci berpendapat bahwa kelompok-kelompok yang dominan di dalam masyarakat berhasil mengarahkan orang (kalangan bawah) agar menerima dominasi sebagai sesuatu yang netral, alamiah dan selayaknya memang harus diterima. Terdapat “persetujuan” dimana masyarakat dari kalangan bawah, menerima kondisi dominasi yang meraka terima.

Kondisi di atas menurut James Lull dalam artikelnya menjadi semakin kompleks seiring dengan perkembangan teknologi di abad 20 ini, terlebih dengan kehadiran media massa yang menjadi alat bagi kaum elit untuk melanggengkan kekuasaan, kejayaan, dan statusnya dengan mempopulerkan pemikiran, budaya, dan nilai-nilai yang mereka miliki (Boggs, 1976:39). Hegemoni dilakukan melalui media massa dengan cara pembingkaian realitas menggunakan sudut pandang ideologi dari kelas dominan. Ideologi tersebut direproduksi dalam aktivitas yang kita lakukan di kehidupan keluarga, pertemanan, lingkungan kerja, dan kehidupan kita sehari-hari. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa teori hegemoni dari Gramsci menghubungkan representasi ideologi pada budaya, yang tingkat efektivitasnya dapat dilihat dari bagaimana kelompok sub-ordinat menerima ideologi dominan tersebut sebagai realitas normal atau hal yang biasa terjadi dalam pengalaman dan kesadaran sehari hari. Dalam konteks perkembangan teknologi informasi yang kian pesat dan telah terintegrasi dalam realitas kehidupan sehari-hari pada masyarakat modern, pengaruh sosial dari media massa ini seringkali tidak disadari, disikusikan, apalagi dikritisi. Oleh karena itu, kehadiran hegemoni seringkali tidak dapat terdeteksi.

media-spoonfeeding-cartoon.jpg

Sumber

Walaupun begitu, dua dari tokoh teori kritis, yakni Raymond Williams dan Stuart Hall mengingatkan bahwa hegemoni dalam berbagai konteks politisnya bersifat rapuh. Ia membutuhkan pembaruan dan modifikasi untuk peneguhan kekuasaan, karena di sana selalu ada tendensi perlawanan atas ideologi dominan.  Tendensi perlawanan terhadap hegemoni tersebut diformulasikan dalam proses komunikasi, dalam lingkaran sosial, dan dalam penggunaan isi media yang kemudian membentuk pesan alternatif, pesan resistensi, atau dalam bentuk pesan yang bertentangan dengan ideologi yang dominan. Media dan jaringan sosial digunakan oleh  kelompok perlawanan tersebut untuk menyampaikan pesan, nilai, dan gaya hidup mereka, yang jarang terdengar pada media yang populer. Dalam hal ini, hegemoni dikatakan gagal saat ideologi dominan lebih lemah dari resistensi sosial yang terjadi di masyarakat.

“It is crucial to the concept that hegemony is not a given and permanent state of affairs, but it has to be actively won and secured, it can be lost.”- Hall

Referensi :

Lull, James. 2003. Hegemony dalam Gender, Race, and Class in Media : a Text Reader (Second Edition). USA : Sage Publication

Littlejohn, Stephen. 2002. Theories of Human Communication (Seventh Edition). USA : Thomson Learning

Advertisements

7 thoughts on “Hegemoni : Ideologi, Media, dan Perlawanan Atasnya

  1. Terdapat tiga kata pembahasan yang aku garis bawahi dalam bacaan ini, mbak.. (koreksi jika aku salah)
    Yang pertama ‘Kesadaran palsu’ dalam pikiran masyarakat tetang realitas sosial dan politik masyarakat kapitalis, dan bagaimana kesadaran palsu terbentuk tidak hanya dari terpaan kaum dominan tetapi juga karena institusi sipil (seperti tempat ibadah, sekolah, keluarga, bahkan media massa) mereproduksi ideologi kapitalis agar terlihat ilmiah. Dan sistem ini sudah bertahan terus menerus.
    Yang kedua adalah Ideologi dominan, bagaimana ideologi dominan kemudian dapat menyingkirkan ideologi subordinat demi kepentingan dominasi kelas.
    Dan yang ketiga adalah media, media memiliki peran bukan hanya sebagai alat bagi kaum elit untuk melanggengkan kekuasaan, kejayaan, dan statusnya dengan mempopulerkan pemikiran, budaya, dan nilai-nilai yang dimiliki , tetapi juga sebagai alat kelompok perlawanan untuk menggulingkan dominasi kelas yang sudah terjadi.

    Lalu, bagaimana menurut mbak Hani sendiri terhadap posisi ideologi dominan saat ini? masihkah sama dengan apa yang dikatakan oleh Lull dan Hall??

    Like

  2. Tulisannya bagus Mba Hani, menjelaskan hegemoni dari akarnya, yaitu pemikiran Marx. Di review, disebutkan bahwa hegemoni bersifat rapuh, yang artinya harus selalu ada pembaruan dan modifikasi untuk peneguhan kekuasaan dalam mengatasi tendensi perlawanan atas ideologi dominan. Kalau pada media, pembaruan ini dalam bentuk apa yah, Mbak? Apakah dapat kita rasakan? Atau justru tidak dirasakan karena sifatnya yang alamiah?

    Like

  3. Membaca komen mba Lail kupikir ya benar juga, bahwa ideologi dominan ini ditanamkan dari berbagai institusi, termasuk media massa, sekolah bahkan sampai rumah peribadatan tak luput disusupi. Mediapun rupanya bisa digunakan untuk melanggengkan kekuasaan — disaat bersamaan bisa digunakan untuk bentuk perlawanan, mungkin di masa Orde Baru model-model majalah Tempo yang isinya oposisi dengan pemerintah ya. Yang jelas, kedua media massa baik pendukung ideologi dominan ataupun yang resist memiliki kepentingan masing-masing, termasuk kita dalam memilih media mana yang mau kita konsumsi karena kitapun pasti punya kepentingan, kan? Pada akhirnya benar dan salah pun relatif..

    Like

  4. Menarik sekali pemaparannya Mbak Hani. Jadi terlihat benang merahnya dari mulai pemikiran Karl Marx hingga Hall. Kesimpulan akhir yang dapat saya tarik dari bacaan ini bahwa: 1)hegemoni sebenarnya bersifat rapuh, namun karena adanya media (mainstream) maka hegemoni itu terus dikukuhkan. 2)Perlawanan terhadap hegemoni biasa dilakukan oleh kelompok perlawanan melalui media dan jaringan sosial untuk menyampaikan pesan, nilai, dan gaya hidup mereka, yang jarang terdengar pada media yang populer.

    Akan tetapi kalau saya sendiri merasa lebih mudah memahami terlebih dahulu dari konsep ideologi Karl Marx yang berbeda dengan konsep ideologi Hull baru kemudian diikuti oleh pemahaman konsep hegemoni. Konsep ideologi Karl Marx adalah “kesadaran palsu” sementara Hull menyatakan anti tesis dari konsep Karl Marx tentang ideologi. Ideologi tidak lagi bermakna “kesadaran yang palsu” melainkan dimaknai Hull sebagai segala pikiran yang teroganisir, bisa berupa nilai, orientasi, dan kecenderungan yang saling melengkapi sehingga membentuk perspektif ide. Jadi jika Karl Marx menempatkan manusia sebagai pihak yang pasif, sedang Hull manusia secara aktif menggunakan ideologinya untuk memaknai realitas.

    Berbagai ideologi yang ada tersebut bertarung. Pada pertarungan inilah terjadi hegemoni, yang merupakan upaya dari ideologi yang dominan untuk menjadi “kebenaran” (meminjam istilah Stuart Hall “make sense” atau masuk akal) sehingga masuk ke dalam alam bawah sadar kita. Proses menghegemoni inilah yang memerlukan perangkat institusi termasuk didalamnya media.

    Like

  5. Review yang menarik. Review ini seakan-akan mengajak saya/pembaca untuk kembali belajar tentang pemikiran tokoh-tokoh kritis, yang mana dimulai dari pemikiran Karl Marx, lalu ada pemikiran Neo Marxisme (Antonio Gramsci). Review ini juga memperkenalkan pemikiran James Lull, bahwa media massa memang merupakan tempat untuk melanggengkan kekuasaan dan kejayaan. Apalagi untuk konteks di Indonesia, ada pemilik media yang juga sebagai ketua partai politik. Medianya digunakan sebagai tempat promosi partai politiknya. Realita ini membuktikan pernyataannya James Lull. Lalu, pertanyaan Saya, bagaimana peranan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) selama memonitor fenomena ini?, apakah KPI pernah menegur RCTI atau MNC Group, terkait penayangan terus-menerus Mars Partai Perindo?
    #041, #SIK041

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s