Hati-Hati dengan Representasi

“Ini anaknya ya bu?”ucap pejabat tersebut di depan seorang ibu pemulung yang Ia temui dalam kegiatan kunjungan lapangan, ke salah satu Tempat Pembuangan Akhir di daerah Makassar, Sulawesi Selatan.

Ibu tersebut mengangguk. Sementara sang anak hanya terdiam, berusaha untuk bersembunyi di balik badan sang Ibu. Tubuhnya kumal, seperti kebanyakan anak lain di perkampungan para pemulung tersebut. Badan kecilnya tampak lebih ringkih dengan beban keranjang sampah yang ia pikul di bahunya.

“Adek sekolah tidak?”tanya pejabat tersebut mendekat ke arah sang anak. Ia hanya tersenyum malu, seraya menggelengkan kepalanya.

“Ooh..mengapa anaknya tidak disekolahkan bu? Kasihan anaknya bu jika tidak disekolahkan. Adek mau kan ya sekolah?”lontar pejabat itu, di depan umum. Di hadapan para awak media yang sedari awal sudah mengikuti kegiatan kunjungan lapangan tersebut. Sementara itu si Ibu hanya tersenyum kikuk, tak lagi mampu berkata-kata.

Hasil gambar untuk anak di kampung pemulung

Sumber Gambar

Fragmen tersebut bukanlah cerita fiktif, melainkan pengalaman nyata yang saya alami beberapa waktu lalu. Mungkin tanpa sadari, kita pun sering menemui bentuk lainnya di berbagai tempat dan waktu yang berbeda. Melihat relokasi nelayan ke rumah susun, misalnya, kita bisa saja mengatakan bahwa mereka akan bahagia memiliki rumah baru yang permanen dengan segala fasilitasnya. Akan tetapi apakah hal itu valid?

Dalam satu titik di kehidupan kita, barangkali kita pernah melakukannya, merasa sudah mendengar dan memahami suara orang-orang yang terpinggirkan —atau dalam istilah yang oleh Gayatri Spivak sebut sebagai sub-altern. Melihat fenomena pekerja anak, maka kita merepresentasikan anak tersebut sebagai anak yang menderita, anak yang dieksploitasi oleh orangtuanya, anak yang kurang beruntung. Melihat relokasi nelayan, kita melihat hal tersebut sebagai hal yang menyenangkan dan merupakan keberuntungan bagi nelayan. Padahal bisa jadi semua itu tidak seperti yang kita pikirkan.

Faktanya,  menurut Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada, Sri Purwatiningsih, anak bisa memiliki perspektif yang berbeda. Sejumlah penelitian menunjukkan, anak lebih berminat pada pekerjaan yang memberikannya upah. Sementara menurut ILO, pekerjaan seperti itu dapat digolongkan pekerjaan yang buruk, misalnya saat anak bekerja di pabrik sepatu atau berjualan koran di jalan. Padahal menurut anak, itu baik untuk dilakukan.[1] Adapun nelayan yang direlokasi, justru enggan untuk menempati rumah barunya dikarenakan jarak yang terlalu jauh dengan tempat di mana mereka mencari nafkah.[2] Baik menurut kita, namun belum tentu baik menurut mereka yang mengalaminya secara langsung. Sebaliknya, tak baik bagi kita, belum tentu pula hal itu tak baik dalam sudut pandang mereka.

Inilah yang Spivak katakan bahwa kelompok sub-altern tak dapat berbicara, kalaupun mereka berbicara, maka tak akan terdengar. Oleh karenanya, kaum elit-intelektual tidak dapat mengklaim bahwa mereka telah mendengar dan mewakili suara kaum sub-altern. Bagi Spivak klaim tersebut merupakan bentuk kekerasan epistemologis yang ingin menyamaratakan keberagaman yang berada dalam kaum sub-altern itu sendiri.

It is liable to speak for the sub-altern, justifying power and domination, naturalising western superiority, essentialising ethnicity, or asserting ethnocultural and class identity, all in the name of sub-altern—Spivak

Lantas, mengapa kita ingin merepresentasikan mereka, orang-orang di dunia ketiga? Mengapa kita ingin lebih jauh mengetahui tentang mereka? Mengapa pejabat ingin merasa mewakili suara seorang anak pemulung? Mengapa ilmuwan ingin mengetahui lebih jauh kehidupan dari orang-orang yang tertindas? Melalui sudut pandang teori postkolonialnya, Spivak mencoba menjawab hal tersebut dengan cara yang sama dengan Foucault dan Escobar, bahwa argumentasi yang terdengar tulus bahwa kita ingin mengetahui dunia mereka, sebetulnya tidak lepas dari motif lain yang berada di baliknya. Pengetahuan adalah bentuk dari kekuasaan, dan rasa ingin mengetahui tentu tak bisa dilepaskan dari rasa ingin menguasai dan mengontrol dalam bentuk yang lain. Spivak pun juga mengungkapkan bagaimana produksi pengetahuan tak bisa benar-benar bisa bebas nilai dan dipenuhi oleh kepentingan yang berada di sekelilingnya.

maxresdefault

Gayatri Spivak

Gambar dipinjam dari sini

Dalam dunia akademis misalnya, dunia ketiga ‘hanya’ ditempatkan sebagai lahan penelitian karena orang-orang di dalamnya memiliki kebudayaan yang berbeda dengan dengan mereka-mereka yang berada di dunia pertama. Setelah dijadikan lahan penelitian, maka beragam informasi-informasi mentah itu pun dibawa dari dunia ketiga untuk kemudian diproduksi menjadi sebuah pengetahuan oleh mereka di dunia pertama. Bagi Spivak, praktik ini tak lain merupakan imperalisme gaya baru, yakni imperialisme kebudayaan (Cultural Imperialism). Implikasinya, bagi Spivak, yakni sejauh mana pandangan kita akan dunia ketiga secara institusional telah terwarnai, maka representasi kita akan dunia ketiga itu pun akan terbatas. Implikasi lainnya yakni bahwa ketika kita menciptakan sub-altern atau dunia ketiga, maka saat itu jugalah kita berusaha agar mereka menyesuaikan dengan gambaran dan keinginan kita.

“When we act in accordance with professional, organisational interest, our representation of the other say much more about us than about the other, or at minimum, they construct the Other only in as far as we want to know it and control it”- Spivak

Jika begitu, bagaimana kita bisa merepresentasikan kelompok sub-altern? Ilan Kapoor dalam jurnalnya[3] mengungkapkan berbagai poin yang Ia sarikan dari tulisan Spivak.  Poin tersebut merupakan pendekatan bijak yang menempatkan diri dalam posisi dekonstruksi, yang diikuti dengan berbagai proses yang melibatkan self-implication, yakni :

1) Intimately inhabiting and Negotiating Discource : bahwa dekonstruksi dan kritik  hanya dimungkinkan jika kita adalah orang yang dimaksud, kita adalah bagian dari apa yang kita ingin kritik. Kita tidak bisa mengklaim diri sebagai orang luar ketika kita pun berada di dalam dan sudah menjadi bagian dari wacana, budaya, institusi, dan geopolitik. “For this reason, too, she advocates the modes of “negotiation” and “critique”, which unsettle the dominant from within”- Moore Gilbert

2) Acknowledging Complicity : bahwa kita memahami betul seperti apa keterlibatan diri kita dalam setiap representasi yang kita buat atau kita klaim. Ini merupakan implikasi yang paling jelas dari paparan yang telah disampaikan oleh Spivak.

3) Unlearning One’s Privilege as Loss : Spivak menyebutnya juga sebagai transformasi kesadaran, sebuah perubahan dalam mind set. Idenya adalah untuk berhenti memikirkan diri sendiri sebagai orang yang lebih baik dan lebih pas.

4) Learning to Learn From Below : Poin ini adalah aplikasi dasar dari poin di atas. Untuk bisa berinteraksi dan belajar dari sub-altern maka kita harus berhenti menganggap mereka sebagai objek, mereka memiliki masalah, kita memiliki solusi. Kita membuka diri pada mereka, dengan berbagai perbedaan yang ada, siap menerima segala bentuk respon mereka. “By so doing, we begin the process of not defining them, but listening to them name and define themselves

5) Working Without Guarantees : Adalah bahwa kita harus menerima berbagai kerentanan yang mungkin terjadi saat kita ingin mengetahui mengenai sub-altern. Bagaimana jika ternyata mereka berdiam diri, jika ternyata terjadi suatu hal yang berada di luar ekspektasi kita.

Berbagai poin tersebut memperlihatkan bahwa Spivak sangat berhati-hati ketika akan merepresentasikan dunia ketiga atau sub-altern (othering dari dunia ketiga), karena narasi dari representasi kita tidaklah berada dalam ruang hampa. Ia akan sangat terkait dan dipengaruhi oleh  siapa dan apa posisi kita bagi dunia tempat kita berada.

 

Notes:

[1] http://cpps.ugm.ac.id/pekerja-anak-kebijakan-yang-tepat-bukan-pelarangan-melainkan-pengaturan/

[2] http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/16/04/15/o5o5rn377-warga-kampung-pasar-ikan-tolak-pindah-ke-rusun-ini-alasannya

[3] Hyper self reflexive development? Spivak on Representing The Thirld World Other,Taylor & Francis,  2004

Advertisements

4 thoughts on “Hati-Hati dengan Representasi

  1. Gayatri spivak pernah memberikan judul pada sebuah essay nya : “Can the Subaltern Speak?” dan di dalamnya Gayatri menyimpulkan bahwasannya kelompok Subaltern ini tidak dapat berbicara dan ketika mereka telah berani untuk berbicara, maka mereka tidak dapat lagi disebut sebagai Subaltern melainkan “other”.

    Kalau dilihat dari sudut pandang teori postkolonialisme, dapat dikatakan bahwasannya​ Colonizer atau penjajah adalah sebagai “self” dan Colonized atau yang terjajah sebagai “other”

    Lantas siapa kah kelompok-kelompok subaltern ini mba? Terima kasih.. 😀

    Like

  2. membaca ini tiba-tiba jadi ingat debat pilkada Jakarta beberapa waktu lalu, ketika masing-masing paslon berargumen soal penggusuran rumah di bantaran sungai. Jika dilihat dari kacamata Spivak ini, maka pemerintah DKI Jakarta yang menggusur adalah yang cenderung menilai masyarakat yang tinggal di bantaran sungai tersebut “hidup tidak layak dan tidak bahagia”, tanpa berdiri di atas sepatu mereka, begitu ya mba Hani? Hanya, ketika kita menempatkan diri kita di posisi mereka, dan saat mereka merasa hidup mereka sudah cukup bahagia dan pemindahan lokasi tempat tinggal secara paksa — walaupun sebenarnya itu baik untuk mereka — dirasakan membebani hidup mereka karena jauh dari lokasi mata pencaharian (seperti contoh nelayan yang mba Hani sebutkan), apakah lantas membiarkan mereka merupakan jalan yang terbaik? Karena, bisa saja mereka bilang “baik” bagi mereka apa yang menurut kita “tidak baik” hanya karena mereka belum pernah mengalami kondisi “baik” yang kita maksud. Walaupun yah, memang benar adanya keinginan untuk mengetahui lebih dalam, memperbaiki suatu keadaan mungkin tidak pernah bebas nilai. dan mungkin saja condong pada keinginan untuk menguasai…

    Like

  3. Saya sependapat bahwa narasi representasi kita tentang sesuatu, tidaklah berada dalam ruang yang hampa, termasuk dalam konteks ini ketika kita merepresentasikan sub-altern (orang-orang yang terpinggirkan). Selalu ada motif yang menyertai pihak-pihak yang ingin ‘mendekati’ sub-altern tersebut. Motif ini bisa bersifat positif bisa pula negatif. Ketika ada kunjungan pejabat di perkampungan kumuh dan diliput oleh media, bisa jadi hal itu dilakukan oleh pejabat tersebut hanya karena ingin menunaikan tugasnya saja. Secara tersurat terlihat baik, seakan-akan ada pejabat yang menaruh perhatian pada sub-altern, padahal sebenarnya itu hanya pencitraan belaka (motif negatif).
    Sementara itu, bila ada pihak-pihak yang tertarik ingin belajar ‘bagaimana menyikapi hidup’ dari anggota sub-altern yang survive dan mampu menjadi inspirator bagi sesama, menurut saya hal ini sebagai motif yang baik/positif. Contohnya diri saya sendiri. Waktu dulu kuliah S1, saya ada ketertarikan untuk bergabung dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), alasan saya sederhana, saya berpikir LSM itu banyak kegiatan sosialnya dan dekat dengan masyarakat. Saya waktu itu akhirnya menjadi volunteer di LSM LRC-KJHAM, yang mana LSM ini bergerak dalam pendampingan korban-korban kekerasan berbasis jender (KdRT, Perkosaan, Pelecehan Seksual). Selama menjadi volunteer, saya kerapkali berinteraksi dengan ibu-ibu korban KdRT. Mereka termasuk sub-altern pula, tetapi faktanya bisa survive dari permasalahannya, bahkan ada yang menjadi motivator bagi korban lainnya. Hal ini membuat saya kagum, saya banyak belajar dari mereka, sehingga ketika saya mengambil skripsi, saya memutuskan untuk meneliti mereka sekalian.
    Oleh karena itu, saya ingin mengkritisi pernyataan penulis bahwa dalam dunia akademis, sub-altern ‘hanya’ ditempatkan sebagai objek/lahan penelitian. Saya kira pernyataan ini tidaklah tepat, karena anggota sub-altern bisa lebih dari itu, bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi sesama, bagaimana mbak tanggapannya?

    Like

  4. Halo Mbak Hani! Ikutan nimbrung yahh. Reviewnya keren mbak, contoh kasus yang ditampilkan menarik dan membantu pembaca untuk memahami apa itu ‘sub-altern’

    Saya setuju sama pernyataannya Kania di atas, ‘baik’ bagi mereka bisa saja berbeda maksudnya dengan ‘baik’ menurut kita, karena belum tentu mereka pernah merasakan ‘baik’ yang kita maksud. Memang kita harus melihat berdasarkan kacamata yang berbeda, tapi kalau dalam konteks penggusuran rumah di bantaran sungai gimana yah jalan tengahnya? Apakah mereka sebaiknya tetap dibiarkan tinggal di bantaran sungai?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s