Dulu dan Kini : Remediation Theory

Pernah mendengar benda bernama walkman? Dulu benda ini betul-betul menjadi benda yang keren dan menyenangkan-setidaknya bagi saya. Betapa tidak, untuk bisa mendengarkan lagu-lagu kesayangan tak lagi harus duduk manis di depan radio tape. Tak harus juga berebut dengan adik atau kakak tentang lagu mana yang ingin didengarkan. Maklumlah, suara radio tape sekecil apapun masih bisa didengarkan oleh orang lain. Dengan walkman, kita bisa mendengarkan lagu-lagu tersebut dimanapun dan kapanpun, secara personal melaui bantuan earphone, asal selalu sedia baterai AAA sebagai nyawanya. Syurga? Iya syurga untuk saat itu. Sampai akhirnya kedigdayaan walkman digeser oleh MP3 Player yang bisa terhubung langsung dengan port USB Komputer yang memungkinkan benda tersebut dapat diisi dayanya dengan hanya menghubungkannya dengan komputer, tidak lagi memerlukan baterai yang hanya dipakai saat ‘darurat’.  Bilangan kapasitas dari hitungan Megabyte (MB) hingga Gigabyte (GB)  ketika itu amatlah terdengar istimewa. Bagaimana tidak, jika walkman hanya mampu memperdengarkan lagu dari kaset yang amat terbatas jumlahnya, MP3 Player dapat menampung puluhan bahkan ratusan lagu di dalamnya. Wow! Iya, wow untuk saat itu pastinya 😀

Dunia berputar, teknologi berkembang. Walkman mulai ditinggalkan, MP3 Player tak banyak lagi digunakan, setelah muncul smartphone dengan kemampuannya yang maha. Tak perlu lagi banyak memiliki gawai, semua sudah ada dalam satu genggaman dalam benda bernama smartphone. Yeah! Keren? Iya, keren. Untuk saat ini, sekali lagi. Bahkan kita tak pernah tau dimanakah akhirnya perkembangan teknologi ini bermuara. Akan secanggih apakah lagi teknologi-teknologi di zaman anak cucu kita kelak. Ya, entahlah. Mungkin kita pun akan gaptek pada masanya~

Radio Tape ke Walkman ke MP3 Player ke Smartphone, inilah yang menurut Bolter dan Grusin (2000) sebut sebagai Remediation. Wow benda apalagi itu? Haha. Bukan, bukan benda. Dia adalah spesies teori. Remediation Theory. Asumsi teori tersebut adalah bahwa media baru hadir untuk menambal kelemahan/reformasi pada media lama. Jadi walkman hadir untuk menambal ke-tidak-portable-an radio tape. MP3 Player hadir untuk menambal keterbatasan ruang pada walkman, dan smartphone hadir untuk menambal keterbatasan-keterbatasan yang ada pada benda-benda sebelumnya.

Dalam proses remediation tersebut, ada dua cara yang biasanya dipakai untuk proses penyesuaian dari media lama ke media baru. Pertama yakni penyesuaian yang berdasarkan kandungan dari media yang lama. Misalnya yakni isi novel yang diadaptasi dalam bentuk film. Kedua penyesuaian berdasarkan bentuk dari media itu sendiri. Misalnya perubahan bentuk Radio tape hingga smartphone tadi. Teknik dasar penyimpanan suara diperbaiki dan didigitalisasi sedemikian rupa sehingga menciptakan bentuk media baru yang lebih efisien.

Bolter dan Grusin dalam bukunya Remediation : Understanding New Media mengenalkan teori mengenai remediation ini memiliki dua konsep yang saling berhubungan. Konsep pertama yakni, immediacy. Immediacy ini singkatnya merupakan pengalaman maksimal yang dirasakan oleh pengguna media dengan isi dari media tersebut, yang menjadikan seolah keberadaan media itu sendiri menjadi hilang. Misalnya, ketika kita menangis saat menonton film, ketika kita ikut terhanyut saat mengakses media sosial dan sejenak lupa dengan realitas di dunia nyata. Bolter dan Grusin(2000) berpendapat bahwa immediacy inilah yang ingin dicapai oleh setiap medium, dan menjadi alasan mengapa akhirnya reformasi pada media lama itu terjadi. Ya, untuk mencapai immediacy itu sendiri. Mengapa radio tape digantikan walkman, ya untuk membuat pengguna merasakan pengalaman yang lebih maksimal saat mendengarkan lagu kesayangannya. Begitu pula dengan kehadiran benda-benda setelahnya yang semakin memperbaiki kualitas pengalaman kita saat mengakses isi dari media tersebut.

Konsep kedua yang bertautan dengan immediacy yakni, hypermediacy. Jika dalam immediacy pengguna dibuat seolah-olah tak menyadari keberadaan media yang dipakainya karena hanyut dalam isi media di dalamnya, maka dalam hypermediacy, pengguna diberikan berbagai pengalaman  menggunakan media dalam berbagai platform dengan bantuan teknologi yang lebih rumit. Hypermediacy ini lebih tergambar saat kita membicarakan kehadiran media baru/internet yang menawarkan kecanggihan di dalamnya. Dengan satu kali klik, kita dapat membuka portal berita, yang di dalamnya ada streaming TV atau juga radio yang dahulu mesti diakses dengan gawai yang berbeda. Hypermediacy yang menawarkan ragam pengalaman menggunakan media ini pada akhirnya disebut Bolter dan Grusin (2000) sebagai upaya untuk mencapai immediacy itu sendiri. Singkatnya, immediacy depends on hypermediacy. Untuk dapat mendapai immediacy dibutuhkan kecanggihan teknologi dan berbagai pengalaman dalam bermedia (hypermediacy) yang memperbaiki pengalaman sebelumnya.

Jadi, kedua hal tersebut selalu saling berhubungan,logika immediacy-hypermediacy. Namun bedanya, hypermediacy dapat mendukung immediacy, tapi tidak untuk sebaliknya, immediacy tidak dapat membantu hypermediacy. Karena immediacy itu sendiri merupakan tujuan dari konsep hypermediacy.

 

Referensi :

Bolter, D.J dan Grusin, R. 2000. Remediation : Understanding New Media. Cambridge : MIT Press

Omar,Bahiyah. Teori Media Baru : Remediasi dalam Antologi Esei Komunikasi : Teori, Isu, dan Amalan. Malaysia : Penerbit USM.

Advertisements

3 thoughts on “Dulu dan Kini : Remediation Theory

  1. Pemberian contoh pada review tersebut, seakan-akan mengajak pembaca ‘flashback’ untuk melihat kembali perjalanan hidupnya ketika menggunakan media. Saya ikut merasakan bagaimana Walkman menggantikan peranan dari Radio Tape, lalu Walkman tersisihkan oleh MP3/MP4 Player, dan diakhiri dengan kehadiran Smartphone sebagai salah satu output dari perkembangan teknologi saat ini, yang mana mampu menambal kekurangan sekaligus menggantikan keberadaan dari media-media sebelumnya.
    Melalui penggunaan Smartphone ini, kita memang memperoleh pengalaman dan kepuasan secara ‘maksimal’, namun penggunaan Smartphone yang berlebihan atau tanpa kontrol, dapat menyebabkan beberapa dampak negatif bagi penggunanya, seperti: penglihatan menjadi terganggu karena sering melihat layar Smartphone, lalu bisa pula menimbulkan kecanduan yang berakibat pada kurangnya produktivitas kerja, untuk dampak selanjutnya bisa juga menyebabkan pengguna Smartphone terhasut/terprovokasi bila mereka tidak melakukan gate keeping process dari banyaknya informasi berita yang berkembang, sehingga bisa menyebabkan sulit dibedakannya ini berita hoax atau tidak, terutama jika informasi tersebut terkait dengan isu sensitif seperti isu SARA dan minoritas. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran diri untuk mengendalikan penggunaan dari Smartphone ini, salah satunya dengan melalui pemakaian yang disesuaikan kebutuhan masing-masing.
    (#041, #SIK041)

    Like

  2. Apa yang disebut ‘baru’ pada akhirnya memang akan menjadi ‘kuno’ pada waktunya dan akan selalu ada teknologi-teknologi baru yang menggantikannya. Sepertinya pun tak ada sesuatu yang benar-benar baru, ya? Karena hal yang ‘baru’ itu sesungguhnya hanya bentuk lain dari yang lama, kemasan dan pengalaman penggunaan yang berbeda padahal kontennya tidak jauh berbeda. Walkman dan mp3, bukankah keduanya untuk mendengarkan musik, hanya kesannya mp3 lebih praktis? Lucunya, bukankah mp3 dianggap lebih praktis karena kaset itu sendiri semakin jarang dan tidak diproduksi lagi? Seperti lingkaran, sesungguhnya manusia menciptakan teknologi, teknologi tersebut menciptakan demand, demand tersebut akhirnya menciptakan trend, dan akhirnya trend mengontrol manusia.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s